Mendidik Anak Menjadi Mister dan Miss World

mendidik anak menjadi mister dan miss world
Ketika masih mahasiswa dulu, saya pernah bertanya kepada salah seorang dosen saya terkait ajang kompetisi anak-anak yang saat itu mulai ramai digelar. Dosen yang terkenal sebagai dosen selebriti, karena rajin tampil di tivi dan berbagai media tersebut, menjawab bahwa kompetisi pada takaran tertentu justru diperlukan dalam kehidupan anak. Namun apakah kompetisi itu bisa dipertontonkan kepada banyak orang, itu yang masih diperdebatkan. Belakangan saya baru tahu bahwa dosen tersebut menjadi salah satu juri di acara reality show yang melibatkan anak-anak.. ^__^

Namun dari diskusi dengan dosen selebriti tersebut, saya mendapat 2 poin penting terkait lomba-lomba di televisi yang melibatkan anak-anak. Poin pertama adalah terkait festivalisasi kompetisi. Dalam hal ini. apakah orang tua menganggap baik suatu ajang kompetisi dimana anaknya berlomba dengan disaksikan banyak orang ataukah tidak? Sedangkan poin kedua adalah tentang nilai suatu aspek yang diperlombakan. Apakah nilai penting yang dianggap penting oleh orang tua, sehingga menjadikan nilai-nilai tersebut layak untuk dikompetisikan?


Festivalisasi Kompetisi Anak


Di awal saya menjadi orang tua, dan mulai berteman dengan banyak ibu-ibu di dunia maya, ada banyak permintaan dari mereka untuk me-like sebuah link tertentu. Setelah saya buka, ternyata link tersebut mengarah kepada foto anak-anak mereka yang sedang diperlombakan. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Dan karena saya menyukai anak-anak, maka setiap permintaan 'like' tersebut saya tanggapi, walaupun banyak diantara mereka yang saling berkompetisi.

Namun ini bukanlah contoh festivalisasi kompetisi pada anak yang saya maksud. Lomba foto anak di Facebook tersebut merupakan kompetisi diantara para orang tua yang sama sekali tidak melibatkan anak-anak mereka. Dengan demikian, hal tersebut tidak ada/sangat sedikit efeknya bagi perkembangan anak-anak mereka.

Disebut ajang festivalisasi kompetisi pada anak jika:
  1. Anak dilibatkan secara langsung, dipersiapkan, dan dilatih untuk hal tersebut
  2. Anak diminta menunjukkan kemampuannya pada orang banyak
Ada dua contoh yang menurut saya berseberangan dan bisa dijadikan dasar bahwa festivalisasi kompetisi ini suatu hal yang debatable, kontradiktif. Contoh pertama adalah lomba cerdas cermat anak. Contoh kedua adalah lomba peragaan busana anak. Kecerdasan dan kecermatan anak dalam menjawab soal pada lomba cerdas cermat, tentu saja sangat berbeda dengan kemampuan anak berlenggak-lenggok di atas panggung. Namun hal ini menjadi relatif jika poin kedua yang dipegang orang tuanya berbeda. Poin ini adalah tentang nilai.

Nilai 

Berbicara tentang nilai, berarti berbicara tentang apa yang dianggap paling penting dan paling baik bagi seseorang. Jika seseorang menganggap penting dan baik ajaran agama yang dianutnya, maka ajaran agama tersebut akan menjadi nilai yang menjadi patokan dalam pikiran, perasaan, dan tindakannya. Namun jika patokan nilai seseorang disandarkan pada film yang ditontonnya, musik yang didengarkannya, dan tayangan televisi yang setiap hari ditontonnya, bisa jadi nilai yang dianutnya pun berbeda.

Orang tua yang memegang teguh nilai agama di keluarganya, tentu akan melarang anaknya berkompetisi dalam hal-hal yang melanggar nilai agama yang dianutnya. Misalnya jika orang tua adalah seorang muslim yang taat, tentu akan melarang anaknya mengikuti festivalisasi kompetisi semacam miss world yang memamerkan aurat anak perempuan mereka ke seluruh dunia.

Namun jika nilai yang dianut orang tua berasal dari televisi, tentu mereka akan bangga jika anaknya menjadi terkenal dan ditonton seluruh dunia. Tak peduli dengan aurat terbuka, ataupun kebodohan yang dipertontonkan anaknya.

NB:
  1. Terkait festivalisasi kompetisi ini, saya sendiri termasuk orang yang tidak menyetujui. Apalagi jika itu diterapkan pada anak-anak. Saya termasuk orang yang berpendapat bahwa kompetisi terbaik hendaknya dilakukan dengan diri sendiri. Menjadi lebih baik setiap hari, itulah kompetisi sejati.
  2. Istilah festivalisasi kompetisi ini mungkin bisa disederhanakan menjadi perlombaan anak. Tapi karena saya merasa kurang pas, jadinya saya menggunakan istilah festivalisasi kompetisi. Ini bukan berarti saya mengikuti trend vicki loh. ^__^