Strategi Jitu Menjawab Pertanyaan Anak

menjawab pertanyaan anak
Dalam sebuah sesi training 'Komunikasi Efektif pada Anak' yang saya isi, ada seorang peserta yang bertanya, "Kak, gimana sih cara menjawab pertanyaan anak yang membingungkan?"

"Membingungkan gimana?", Saya bertanya.

"Jadi, adik saya itu masih TK. Tapi dia menanyakan hal-hal yang hanya orang dewasa yang boleh tahu." Lanjut peserta yang kita sebut saja Kak Yanti.

"Hal-hal yang hanya orang dewasa yang boleh tahu? Contoh pertanyaannya seperti apa?" Saya bertanya lagi.

"Kak, gimana sih cara buat dedek bayi?" Kak Yanti menjelaskan.

"Dedek bayi yang kayak gimana?" Saya balik bertanya.

"Itu loh yang lucu dan imut-imut." Kak Yanti menjawab.

"Lucu dan imut-imut? Emang dedek bayi lucu dan imut-imut ya?" Saya bertanya lagi.

"Iya." Jawab Kak Yanti.

"Eh, menurut Kak Yanti, selain dedek bayi, apa lagi yang lucu dan imut-imut?" Tanya Saya.

Kak Yanti berpikir sebentar, lalu menjawab, "Apa ya.. Boneka panda. Boneka beruang. Boneka Angry Bird.."

"Kak Yanti suka boneka?" Saya bertanya.

"Iya." Kak Yanti menjawab.

"Wah. Kak Yanti punya boneka apa aja di rumah?" Saya bertanya lagi.

"Banyak. Ada boneka panda, beruang, angry bird.." Kak Yanti terus bercerita tentang boneka koleksinya. Ceritanya cukup lama. Sampai akhirnya Kak Yanti berhenti bercerita, saya tak lagi bertanya. Hening sebentar.

"Oke. Jadi, pertanyaan awal Kak Yanti tadi apa ya?" Saya kembali bertanya.

"Eh. Apa. O iya, tentang gimana cara menjawab pertanyaan anak yang membingungkan." Kak Yanti menjawab.

"Kak Yanti paham maksud saya bertanya terus menerus? Hingga ujung-ujungnya, Kak Yanti bercerita panjang lebar tentang boneka dan melupakan pertanyaan awal?" Saya bertanya lagi.

"Oh. Sebagai bentuk pengalihan ya Kak?" Kak Yanti mengangguk-angguk.

"Yap. Ini adalah salah satu strategi menjawab pertanyaan anak. Ini bisa dilakukan jika kita tidak begitu paham jawaban dari pertanyaan anak tersebut. Atau jika kita menilai bahwa pertanyaan anak tidak relevan dengan usia dan perkembangannya." Pungkas Saya.

Meta, Probing Question, dan 7 plus/minus 2 

Berbicara tentang pertanyaan, sebagian dari kita pasti tak asing lagi dengan istilah 5W1H. Sebuah istilah yang menjadi dasar bagi dunia jurnalisme, science, dan kepenulisan. 5W1H merupakan formula pertanyaan yang akan menggambarkan sesuatu secara utuh sebuah fenomena/kejadian.
  1. What. Apa?
  2. Who. Siapa?
  3. When. Kapan?
  4. Where. Dimana?
  5. Why. Mengapa?
  6. How. Bagaimana?
Meta Question
Adalah istilah yang digunakan di dunia psikologi, untuk mempertanyakan pertanyaan yang ditanyakan. Bingung ya? Hehe..

Contohnya kita ambil dari cerita saya di atas. Pertanyaan: "Kak, gimana sih cara buat dedek bayi?" bisa kita buat Meta Questionnya menggunakan prinsip 5W1H di atas:
  1. What. "Apa maksud Kamu menanyakan itu?"
  2. Who. "Siapa yang membuat kamu menanyakan itu?"
  3. When. "Kapan kamu mendengar istilah cara buat dedek bayi?"
  4. Where. "Dimana kamu mendengar istilah cara buat dedek bayi?"
  5. Why. "Mengapa kamu menanyakan itu?"
  6. How. "Bagaimana kamu bisa menanyakan hal itu?"

Probing Question
Untuk menjelaskan tentang apa dan pentingnya probing question (pertanyaan untuk menggali/menyelidik), saya tulis sebuah anekdot yang pernah saya baca:

Suatu hari, Lina, gadis kecil berumur 5 tahun yang baru saja pulang dari TK, bertanya pada ibunya, "Bu, gimana sih cala membuat dedek bayi?"

Ibunya terkejut. Setelah menghela nafas panjang, sang ibu mengajak Lina duduk, kemudian mulai menjawab pertanyaan Lina. Ibu muda tersebut memulai dengan konsep perbedaan jenis kelamin. Dilanjutkan dengan pengantar biologi manusia. Tak lupa menambahkan pandangan agama tentang hal ini.

Setelah hampir 1 jam menjelaskan, tiba-tiba Lina menangis. Si ibu pun terkejut dan bertanya, "Lina sayang, kok menangis tiba-tiba?"

Dengan tersedu-sedu Lina menjawab, "Ibu.. Hu.. Hu.. Aku khan tadi ada PL menggambal. Disuluh ibu gulu membuat dedek bayi gitu. Telus aku tanya ibu. Telus ibu bilang Lina belum boleh buat dedek bayi. Besok aku pasti dimalahin ibu gulu. Hu... Hu.."

Ibu Lina terdiam menahan tawa.

Angka Ajaib 7 plus/minus 2
Pada tahun 1956, George Miller menerbitkan sebuah tulisan terkait dengan Memori Kerja (Working Memory) manusia. Inti tulisannya, Working Memory manusia tuh terbatas. Bahwa ketika seseorang melakukan suatu hal, lalu ada orang lain yang mengganggu konsentrasinya, kemungkinan besar, orang tersebut akan lupa pada hal yang dikerjakannya.

Contohnya pada kasus Kak Yanti di atas. Kak Yanti menanyakan suatu hal. Saya tidak langsung menjawab pertanyaan Kak Yanti, melainkan terus-menerus menanyakan hal lain. Sehingga pada satu titik, Kak Yanti lupa akan pertanyaan awalnya.

Lalu apa maksud dari angka 7 plus minus 2? Maksudnya bahwa jumlah 'hal' yang mampu diingat Working Memory berkisar antara 5 (7-2) sampai 9 (7+2). 'Hal' disini bisa berupa angka, kata, kalimat, kejadian, pertanyaan, dan kombinasi dari itu semua. 'Hal' disini dalam ilmu psikologi disebut Chunk. Dan salah satu teknik untuk meningkatkan kapasitas/kinerja memori kita, disebut Chunking. Saya tidak akan membahas lebih dalam tentang hal itu disini.

Kembali ke 7 plus minus 2. Kita ambil contoh kasus Kak Yanti lagi. Bahwa pada saat itu, Kak Yanti menanyakan tentang cara membuat dedek bayi. Pertanyaan ini adalah 1 dari sekian 'hal' (chunk) yang ada di Working Memory Kak Yanti. Bagaimana caranya agar Kak Yanti mampu melupakan pertanyaan tentang cara membuat dedek bayi? Tentu saja dengan membuat pertanyaan ini keluar dari Working Memory nya. Maka tugas saya adalah membuat pertanyaan-pertanyaan yang memaksa Kak Yanti mengalihkan perhatiannya. Mengisi Working Memory Kak Yanti dengan hal lain. Sehingga ketika Kak Yanti bercerita tentang koleksi bonekanya, secara otomatis, Working Memory yang tadi berisi pertanyaan cara membuat dedek bayi, digantikan dengan koleksi boneka-boneka Kak Yanti. Mudah-mudahan bisa dipahami.

Alihkan Pertanyaan dengan Pertanyaan

Dialog saya dengan Kak Yanti adalah sebuah contoh strategi jitu untuk menjawab pertanyaan anak. Sahabat bisa melakukan ini dengan melatih dialog menggunakan 5W1H, Probing Question dan Meta Question. Dan sesuai dengan teori 7 +/- 2, semakin banyak pertanyaan pengalih yang sahabat tanyakan ke anak, semakin besar kemungkinan mereka melupakan pertanyaan awal.

Yang perlu diperhatikan, ini hanyalah salah satu teknik dari sekian banyak teknik menjawab pertanyaan anak. Gunakan ini jika:
  1. Pertanyaan anak tidak sesuai dengan usia perkembangannya.
  2. Jawaban dari pertanyaan anak tersebut justru akan kembali membingungkan si anak.
  3. Kita tidak begitu paham atau tidak begitu ahli dalam menjawab pertanyaan tersebut.
Masih banyak strategi lain dalam menjawab pertanyaan anak yang terkadang membingungkan dan mengejutkan. Insya Allah saya akan membahas strategi lain di tulisan berbeda. Yang perlu diingat, bahwa strategi apapun boleh digunakan selama kita jujur dan tidak membohongi anak kita. Karena kejujuran adalah modal utama dalam mendidik anak kita.

NB:

  1. Untuk sahabat yang memiliki pengalaman dalam menjawab pertanyaan anaknya, silahkan sharing disini. Saya butuh banyak masukan terkait hal ini.
  2. Jika ada pertanyaan terkait Meta Question, Probing Question, dan teori Working Memory, silahkan ditanyakan disini. Insya Allah saya akan senang menjawabnya.