Walk The Talk: Anak Kritis dan Orang Tua Teladan

walk the talk: anak kritis dan orang tua teladanSuatu hari saya diberi kesempatan mengisi outbond untuk para pegawai perusahaan dinamit dan pertambangan. Acaranya berlangsung siang hari di waduk Jati Luhur. Karena sekalian ingin berpetualang, saya bilang ke panitia bahwa saya sanggup berangkat sendiri kesana. Naik motor.

Tibalah hari H. Saya berangkat pagi dari Depok naik motor. Saya memperkirakan bahwa jam 12 siang, saya sudah tiba di lokasi, untuk kemudian istirahat, makan siang dan mengisi acara tepat pukul 1 siang. Tapi perkiraan saya rupanya meleset. Saya tiba di lokasi pukul setengah 2 siang. Terlambat.

Tanpa sempat makan siang, saya langsung menemui panitia dan peserta. Saya langsung pergi ke aula dimana para peserta sudah berkumpul. Secara terbuka saya meminta maaf kepada peserta atas keterlambatan saya. Tapi ternyata mereka tidak begitu saja memaafkan saya. Sejak awal mereka diberi aturan bahwa keterlambatan mereka berkonsekuensi hukuman. Maka, saya sebagai trainer pun, harus mematuhi aturan tersebut. Walk the Talk, begitu istilahnya.

Dan akhirnya, berkat sikap kritis para peserta, saya pun menjalani hukuman dari mereka. Saya, bersama beberapa orang panitia, harus joget dan menghibur mereka di depan aula.. ^__^

Kritis dan Walk The Talk

Melihat latar belakang peserta, yang merupakan pegawai di perusahaan dinamit dan pertambangan, saya menjadi maklum jika mereka sangat menghargai waktu. Keterlambatan, atau ketidak sesuaian dalam kinerja mereka, bisa berakibat fatal. Nyawa taruhannya. Dan tak heran pula, mereka menjadi manusia-manusia yang sangat kritis terhadap aturan yang berlaku.

Tapi tahukah sahabat, siapa manusia yang lebih kritis dari mereka? Yap, sudah pasti, anak-anak. Anak-anak adalah manusia-manusia yang terlahir dengan sifat kritis. Sekali sebuah aturan/peraturan/keteraturan mereka jalani, mereka akan langsung mengingatnya. Dan akan mengingatkan kita jika suatu saat kita tidak menjalankan aturan/peraturan/keteraturan tersebut.

Hal ini pernah saya alami. Suatu hari saya mengajak anak saya Farid untuk membuat teh. Sambil saya gendong dan memperagakan cara membuat teh tawar, saya juga menarasikan langkah-langkah membuat teh. Mulai dari mengambil teh, menuangkan teh tubruk ke dalam gelas, mengambil air ke dalam panci, menaruh panci di atas kompor gas, menyalakan kompor, menutup panci, dan menunggu sampai air mendidih. Farid menikmati momen-momen itu. Bahkan beberapa kali dia mengulangi kata-kata yang saya ucapkan, "Teh... papuh (tutup panci).. didih (air mendidih).."

Esoknya, saya mengajak Farid membuat teh lagi. Kami mengambil teh, menuangkannya ke dalam gelas, mengambil air ke dalam panci, menaruh panci di atas kompor gas, menyalakan kompor, dan menunggu sampai air mendidih. Eh, tapi sepertinya ada yang tertinggal. Apa ya? Sahabat bisa membantu saya? (Kok jadi mirip narasi Dora the Explorer ya.. ^__^)

"Papuh... Papuh..." Tiba-tiba Farid berbicara, mengingatkan saya untuk menutup panci.

Begitulah. Kemarin saya telah berbicara (Talk) kepada Farid, bahwa salah satu langkah dalam membuat teh adalah dengan menutup panci. Maka sekarang pun, saya harus menjalankan (Walk) aturan main tersebut. Sesederhana itu. Dan Farid mengingatnya. Mengkritisi saya.

Saya tak habis pikir jika ke depannya saya terlalu banyak berbicara. Mengeluarkan berbagai aturan. Menasihati ini itu ke Farid. Tapi saya sendiri tidak melaksanakan apa yang saya bicarakan. Tidak mengikuti aturan yang bersama kami tetapkan. Dan mengkhianati apa yang saya nasihatkan. Akankah Farid masih berkenan mengkritisi saya, mengingatkan saya.

NB:
Sebenarnya saya ingin membahas lebih jauh tentang Walk The Talk ini. Tak lupa pula menyelipkan teori Disonansi Kognitif untuk pembelajaran kita sebagai orang tua. Tapi sepertinya tulisan ini akan menjadi sangat panjang jika hal itu dilaksanakan. Saya berusaha membuat tulisan-tulisan di Senyum Anak ini ringan, mudah dicerna, dan bermakna.

Sekedar mengingatkan status di Facebook saya yang berhubungan dengan tulisan ini:
Apa yang berasal dari mulut, hanya sampai ke telinga.
Apa yang berasal dari pikiran, hanya sampai ke ingatan.
Apa yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.
Apa yang terlihat, akan cenderung diikuti.