Mendidik Anak Jujur dan Hebat


mendidik anak jujur dan hebat
Pada suatu hari, rumah Lina kedatangan tamu. Bapaknya Lina yang mengintip dari jendela, mengenali tamu itu. Karena malas melayani tamu itu, Bapaknya Lina pun memanggil Lina dan berkata, "Lina sayang. Lina mau bantuin Bapak gak?"

Lina menjawab, "Iya pak. Bapak mau dibantu apa?"

"Lina ke depan ya. Temuin om yang di depan itu. Terus bilangin kalo bapak gak ada di rumah." Pinta Bapak Lina.

"Oke pak." Jawab Lina.

Lina pun pergi ke depan menemui tamu Bapaknya. Setelah itu ia berkata, "Om, tadi bapak bilang, katanya bapak gak ada di lumah. Udah ya om. Lina mau main lagi."

Bapak Lina yang mendengar hal itu, menepuk jidatnya.

Kritis dan Jujur

Dalam tulisan saya sebelumnya (Walk The Talk: Anak Kritis dan Orang Tua Teladan), saya telah membahas tentang anak yang kritis. Tak hanya kritis dalam menilai setiap ucapan kita, anak juga sangat kritis terhadap apa yang kita lakukan. Maka, jika sedikit saja kita tidak mematuhi aturan yang berlaku, jangan heran jika anak-anak akan mengingatkan kita pada aturan itu.

Yang menarik, cara anak-anak mengingatkan kita, biasanya to the point. Langsung, polos, lugas, tanpa basa-basi, dan di atas itu semua, jujur. Kalau boleh saya katakan, pada dasarnya, semua anak dilahirkan dalam keadaan jujur, hingga orang tua mereka menjadikan anak-anaknya menjadi seorang penipu, pembohong, pengkhianat, politis, atau tetap bertahan dalam kejujurannya.

Lalu bagaimana jika anak kita sudah sering mengingatkan kita, tapi sering pula kita menganggapnya angin lalu? Bagaimana jika anak kita mendapati kita kerap kali melanggar aturan yang berlaku? Bagaimana jika anak kita sering melihat kita bicara, tapi tidak melaksanakan apa yang kita ucapkan? Bagaimana jika anak kita sering mendengar kita berbohong?

Disonansi Kognitif dan Sebuah Persimpangan

Pada tahun 1956, Leon Festinger menerbitkan sebuah buku berjudul When Prophecy Fails. Buku ini menceritakan tentang sekelompok pemuja UFO yang percaya bahwa sebentar lagi, makhluk-makhluk luar angkasa akan mendarat di bumi. Waktu dan tempat pendaratan UFO telah mereka tetapkan. Ketika UFO mendarat, makhluk-makhluk luar angkasa itu akan menghancurkan seluruh kehidupan di bumi. Hanya orang-orang yang mengikuti kelompok mereka lah yang akan selamat dan hidup berdampingan dengan makhluk pengendara UFO itu.

Namun waktu berlalu. Di tempat dan waktu yang ditentukan, ternyata tidak ada kejadian. UFO tidak datang sesuai ramalan. Anggota kelompok pemuja UFO pun mengalami Disonansi Kognitif yang sangat hebat. Di satu sisi, mereka meyakini bahwa kedatangan UFO telah ditentukan. Tapi di sisi lain, mereka melihat kenyataan, bahwa semua ramalan yang mereka percayai itu tidak terjadi. Apakah mereka merupakan korban hoax? Penipuan?

Disinilah hal yang menarik. Para pemuja UFO itu ternyata tidak langsung mencampakkan kepercayaan mereka begitu saja. Mereka mengambil jalan tengah untuk keluar dari ketidaknyamanan yang mereka alami akibat Disonansi Kognitif ini. Mereka mempercayai bahwa makhluk penguasa UFO memberikan kesempatan kedua bagi makhluk bumi untuk 'bertobat'. Sehingga penghancuran kehidupan bumi sebagaimana yang diramalkan sebelumnya tidak terjadi. Paska kejadian itu, kelompok pemuja UFO itu justru semakin giat mengajak orang masuk ke kelompoknya.

Dari sinilah, konsep Disonansi Kognitif mulai dipakai secara meluas, terutama di bidang psikologi sosial. Secara umum, Disonansi Kognitif diartikan sebagai, perasaan tidak nyaman yang dialami seseorang ketika mereka meyakini 2 atau lebih pemikiran (ide, kepercayaan, nilai, reaksi emosional) yang bertentangan satu sama lain. Ketika mengalami Disonansi Kognitif ini, orang akan merasakan 'disequlibrium': frustrasi, takut, bersalah, marah, malu, cemas, dan sebagainya. Dan untuk menghilangkan perasaan-perasaan itu, biasanya ada 3 hal yang dilakukan:
  1. Mengubah pemikiran awal sesuai dengan pemikiran baru
  2. Menganggap pemikiran baru tidak penting, sehingga ia bisa nyaman memegang pemikiran awalnya
  3. Mengelaborasi/menyatukan kedua pemikiran tersebut, sehingga tercipta pemikiran yang sama sekali baru

Berani Jujur Hebat

Sebuah kebohongan, berpotensi untuk menciptakan kebohongan-kebohongan lain untuk melindungi kebohongan pertama. Dan pada satu titik, orang yang terbiasa berbohong, pasti sulit membedakan antara realitas dan dunia palsu yang ia ciptakan.

Kebohongan merupakan sumber utama pemicu Disonansi Kognitif. Karena ketika kebohongan pertama digulirkan, kebohongan ini pasti bertentangan dengan realitas yang terjadi, sehingga terjadilah Disonansi Kognitif pada orang yang berbohong tersebut. Akibatnya, orang tersebut harus memilih, apakah ia akan hidup dalam dunia palsu yang ia ciptakan di atas landasan kebohongan, atau ia akan keluar dari kebohongan tersebut, menjadi jujur dan hebat.

Semoga kita bisa belajar dari kisah Lina dan Bapaknya di atas. Semoga kita juga bisa mengambil hikmah dari kelompok pemuja UFO. Bahwa ketika anak terbiasa hidup dalam kebohongan, bukan mustahil mereka akan hidup menjadi bagian dari kelompok pemuja UFO.. ^__^

NB:
Berani Jujur Hebat adalah slogan kampanye KPK sebagai bagian pendidikan anti korupsi bangsa ini.