Mendidik Anak Berpolitik

Suatu hari, saya duduk bermain bersama anak saya, Farid. Tengah asyik bermain mobil-mobilan, tiba-tiba saya ingin pipis. Maka saya pun berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Farid yang melihat saya pergi, memanggil saya sambil menepuk-nepuk tangannya di lantai tempat saya duduk. "A ah.. a ah.. du duh.. du duh..!" Begitu katanya, meminta saya untuk duduk kembali dan bermain bersama.

Saat itu Farid berumur 1 tahun 4 bulan. Saat itu juga saya memiliki pilihan. Bisa saja saya langsung pergi ke kamar mandi, pipis, dan langsung kembali bermain bersama. Toh, waktu yang diperlukan untuk itu hanya sebentar. Tapi saya tidak mengambil pilihan itu. Saya kembali mencium kepala Farid dan berkata, "Farid sayang, ayah pipis dulu ya. Nanti ayah duduk disini lagi dan bermain bersama Farid."

Farid menjawab, "A ah.. cacis.." ("ayah.. pipis.." red)

Apa Itu Politik

Ketika kita mendeskripsikan politik sebagai sistem negara demokrasi, otoriter, dan sebagainya, mungkin bisa diibaratkan dengan mendeskripsikan 'kendaraan' sebagai Kawasaki Ninja 250R, atau Land Rover Defender. Terlalu spesifik, dan kurang mendasar. Maka ijinkan saya untuk mendeskripsikan politik dengan artinya yang paling dasar:

Politik adalah seni atau ilmu pengetahuan mempengaruhi orang lain (demi mendapatkan keinginan kita), yang melibatkan 2 orang atau lebih.

Jika diurai, maka kita akan dapatkan 3 unsur:
  1. seni atau science
  2. mempengaruhi orang lain (untuk mendapatkan keinginan kita)
  3. melibatkan 2 orang atau lebih
Dasar sekali. Dan dengan deskripsi seperti ini, maka sadar atau tidak, mungkin hampir seluruh kegiatan sehari-hari kita berkaitan dengan politik. Termasuk kegiatan bermain saya dengan Farid.

Pendidikan Politik Farid

Secara naluriah Farid telah berpolitik. Farid memepengaruhi saya (3) agar tetap duduk bermain bersamanya (2). Dan karena Farid belum memiliki landasan ilmiah tentang apa yang dilakukannya, maka unsur no 1 dalam deskripsi politik di atas, bisa kita katakan seni. Seni yang lahir dari naluri.

Tapi yang lebih penting untuk disoroti disini adalah tindakan saya sebagai orang tuanya. Farid menginginkan sesuatu dari saya. Jika saya mengabulkan segala apa yang diinginkannya, maka bukan tidak mungkin saya sedang menanamkan semacam agresivitas politik dalam diri Farid. Jika begitu, mungkin nanti Farid akan menjadi seorang politisi yang menghalalkan segala cara, karena keinginannya selama ini tidak pernah ditolak.

Dalam menolak keinginannya pun saya memiliki 2 pilihan. Sebagai orang dewasa yang 'berkuasa' atas dirinya, saya bisa saja menolak keinginan Farid tanpa penjelasan. Tapi pastinya Farid akan mengikuti tindakan saya, dan menjadi seorang politisi otoriter.

Dalam hal ini saya mengambil pilihan kedua. Menolak keinginan Farid sambil menjelaskan dengan baik kenapa keinginannya tidak bisa dikabulkan. Dengan demikian, saya berharap Farid menjadi seorang politisi yang demokratis.

NB:
  1. Katanya sih tahun 2013 ini tahun politik. Jadi lah saya tergerak untuk membuat tulisan bertema politik.
  2. Politisi yang saya maksud di atas juga dalam artian luas ya. Seseorang yang menggunakan seni atau science untuk mempengaruhi orang lain demi mendapatkan keinginannya. Tidak hanya berkaitan dengan DPR, Presiden, atau semacamnya.
  3. Pendidikan politik ini erat kaitannya dengan pola asuh. Mungkin mirip dengan tulisan saya di Seni dalam Pola Asuh Anak. Disini saya mencoba melihatnya dari ilmu politik yang pernah saya pelajari dulu.
  4. Untuk yang alergi politik, ketahuilah, bahwa setiap kegiatan dalam hidup kita, mungkin tak terpisahkan dari dunia politik.
  5. Untuk yang menebak bahwa kendaraan impian saya adalah Kawasaki Ninja 250R dan Defender, anda benar. Hehe..