Konsistensi dalam Mendidik Anak: Episode Tantrum


konsistensi mendidik anak tantrum
Suatu hari Lina diajak ibunya pergi ke pasar. Disana, Lina melihat pedagang balon. Kebetulan sang pedagang balon menjual balon berbentuk Dora, tokoh kartun kesukaannya. Lina pun meminta sang ibu untuk membelikan balon tersebut. Tetapi karena sang ibu hanya membawa uang pas-pasan untuk belanja, ia menolak permintaan Lina, "Lina sayang, ibu lagi gak bawa uang. Nanti saja ya beli balonnya."

"Sekalang aja. Lina mau balon Dola." Jawab Lina.

"Lina lihat deh dompet ibu. Tuh, ibu cuma bawa segini. Kalau beli balon Dora, nanti uangnya gak cukup untuk belanja." Ibu Lina memperlihatkan dompetnya pada LIna.

"Gak mau. Lina maunya sekalang. Nanti balon Dola nya kebulu pelgi. Nggak ada lagi." Lina mulai merajuk.

"Lina. Ibu bener-bener gak bawa uang lagi. Nanti aja ya beli balonnya." Nada suara ibu Lina semakin tinggi.

"Lina maunya sekalang. Lina mau balon Dola." Lina mulai menangis.

Ibu Lina yang melihat Lina menangis, merasa tak tega. Akhirnya sang ibu membelikan Lina balon Dora. Dan memutuskan untuk belanja sayur di tukang sayur keliling yang biasa lewat di rumah mereka.

Beberapa hari kemudian, Lina pergi menemani ibunya ke rumah seorang teman. Setelah kunjungan usai, ibu dan anak itupun berpamitan pada sang pemilik rumah. Di luar pagar ternyata telah menunggu tukang mainan keliling. Lina melihat boneka Barbie lucu. Iapun menghampiri tukang mainan itu. Sambil memegang boneka Barbie tersebut, Lina berkata pada ibunya, "Ibu, aku mau boneka Belbi ini."

"Lina. Tadi khan Lina sudah janji gak akan jajan hari ini." Ibunya menjawab.

"Tapi ini khan bukan jajan bu. Ini boneka Belbi. Lina mau ini." Lina mulai merajuk.

"Sayang, nanti aja ya beli boneka Barbie nya. Nanti minta beliin ke bapak." Nada suara ibu Lina semakin tinggi.

"Lina maunya sekalang. Lina mau boneka Belbi ini. Sekalang." Lina mulai menangis.

"Nanti aja Lina. Ayo, taro lagi bonekanya. Sekarang kita pulang." Ibu Lina mengambil boneka dari tangan Lina.

"Gak mau. Lina mau boneka Belbi ini. Sekalang. Huu." Lina mulai menjerit.

Merasa malu karena mulai menjadi pusat perhatian, ditambah lagi, temannya sang ibu masih memperhatikan dari balik pagar, akhirnya ibu Lina mengalah. Sang ibu membelikan boneka Barbie seperti yang diinginkan Lina. Linapun langsung berhenti menangis.

Seminggu kemudian. Lina bertamasya bersama ibu dan bapaknya. Mereka pergi ke kebun binatang Ragunan. Setelah berjalan-jalan melihat berbagai jenis binatang, Lina dan kedua orang tuanya mampir ke jajaran toko yang ada disana untuk makan. Di toko suvenir sebelah, Lina melihat boneka gajah besar. Lina jatuh hati pada boneka itu. Lina pun meminta kepada ibu bapaknya untuk membelikannya boneka itu.

Ibunya menanyakan harga boneka itu ke pemilik toko. Terlihat raut muka terkejut ketika sang pemilik toko menyebutkan harganya. Terjadilah tawar menawar diantara keduanya. Sampai pada satu titik, sang ibu menghampiri Lina, "Lina sayang, kita beli boneka gajahnya nanti aja ya. Di toko mainan dekat rumah saja. Di sini harganya mahal."

"Tapi khan disana nggak ada boneka gajah Bu." Lina mulai merajuk.

"Kalo begitu, nanti kita cari di tempat lain. Disini mahal Lina." Jawab sang ibu.

"Di tempat lain juga belum tentu ada Bu. Lina maunya disini aja." Lina mulai menangis.

"Lina, jangan mulai deh. Kita beli di tempat lain aja ya. Ada kok yang jual boneka gajah kayak gitu." Nada suara ibu Lina mulai meninggi.

"Gak ada Bu. Boneka gajah itu cuma ada disini. Lina mau belinya disini." Lina mulai menjerit.

"Ada. Nanti kita cari di tempat lain." Sang Ibu mulai menarik Lina menjauh dari toko.

Lina meronta-ronta. Tangis dan jeritannya semakin kencang, "Gak ada. Lina mau boneka gajah itu!"

Ibu Lina mencoba menggendong Lina, tapi Lina tetap meronta dan bahkan mulai berguling-guling di tanah. Suara tangisan dan jeritannya yang menginginkan boneka gajah itu, semakin kencang.

Bapaknya yang mulai merasa diperhatikan orang banyak langsung menengahi, "Udah Bu, belikan saja bonekanya. Malu diliat orang banyak tuh."

Akhirnya sang ibu mengalah lagi. Linapun langsung berhenti menangis ketika boneka itu sudah di tangannya.

Temper Tantrum

Cerita Lina di atas mungkin sedikit banyak bisa menjelaskan bagaimana temper tantrum terbentuk. Awalnya, Lina secara alami menangis ketika keinginannya tidak dikabulkan. Kemudian Lina belajar bahwa tangisan saja tidak cukup. Akhirnya Lina mulai menambahkan jeritan, rontaan, dan mengguling-gulingkan badannya di tanah sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya. Dan secara tidak sadar, ibu Lina justru mendukung 'proses pembelajaran' ini dengan tindakan mengalah-nya.

Temper tantrum adalah sebuah luapan emosi yang terjadi pada seorang anak (dan orang dewasa meskipun jarang sekali), yang ditandai oleh tangisan, jeritan, teriakan, sifat keras kepala, menggulingkan badan di tanah, bahkan pada beberapa kasus, pelaku temper tantrum ini melakukan kekerasan. Anak yang mengalami temper tantrum kehilangan kontrol terhadap tubuhnya. Sehingga bahkan jika keinginannya telah terpenuhi, anak tersebut masih menunjukkan gejala-gejala tersebut (menangis, menjerit, dsb).

Pada balita, temper tantrum sebenarnya merupakan kejadian yang normal. Hanya saja, penyikapan yang kurang tepat dari orang tua, menjadikan ini sebagai masalah yang berkelanjutan. Apa yang dilakukan ibu dan bapak Lina pada cerita di atas, bisa kita jadikan contoh buruk dalam menghadapi pembentukan temper tantrum pada anak.

Sedangkan jika disikapi dengan tepat, temper tantrum ini akan menghilang dengan sendirinya seiring tumbuh kembang anak.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Berdasarkan penelitian, balita menggunakan tantrum untuk mengekspresikan 2 jenis emosi, yaitu marah dan takut. Berikut adalah tips agar fase tantrum pada anak berlalu dengan baik:
  1. Kenali penyebab tantrum ini, apakah anak tantrum karena marah, atau anak tantrum karena ketakutan terhadap sesuatu.
  2. Jauhkan benda-benda berbahaya dari anak yang sedang mengalami tantrum. Pastikan lingkungan sekitar tempat anak mengalami tantrum, aman.
  3. Jika anak tantrum karena marah, biarkan anak mengekspresikan kemarahannya tersebut. Entah menangis, menjerit, memukul-mukul lantai, dan sebagainya. Jangan merasa malu jika orang lain memperhatikan. Ini semua demi kebaikan si anak.
  4. Setelah marahnya reda, emosi yang tersisa adalah sedih. Biasanya anak akan berhenti meronta, menjerit, dan memukul-mukul lantai. Tetapi anak tetap menangis. Pada saat inilah anak memerlukan kenyamanan. Peluk dan gendong anak untuk meredakan tangisan sedihnya.
  5. Sedangkan jika anak tantrum karena ketakutan terhadap sesuatu, segera jauhkan penyebab ketakutan itu dari anak. Atau gendong anak dan pergi dari tempat itu.
  6. Yang paling penting, sebagaimana judul tulisan ini, konsistenlah dalam mendidik anak. Jika sahabat berkata A, maka konsisten dengan perkataan itu. Jangan sampai ketidak konsisten an kita menjadi celah bagi munculnya tantrum artificial seperti kasus Lina di atas.

NB:
  1. Tulisan ini bagian dari rangkaian tulisan "Konsistensi dalam Mendidik Anak". Nantikan episode lainnya. Hehe
  2. Cerita LIna di atas based on true story. Bukan cerita sebenarnya, bukan pula rekayasa.
  3. Tulisan ini dibuat sebagai sindiran sekaligus pengingatan kepada saya untuk Konsisten dalam Menulis. Hampir 2 minggu saya tidak menulis lagi disini. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih konsisten. Mohon doa sahabat sekalian.. ^__^