Saat Tepat Mengajar Anak Membaca

saat tepat mengajar anak membaca
Dulu saya kagum sekali dengan metode Glenn Doman. Sebuah metode yang diklaim mampu mengajarkan bayi membaca. Dengan memperlihatkan flash card pada anak secara rutin, lama kelamaan anak bisa 'membaca' apa yang tertulis di flash card tersebut. Begitu katanya.

Kekaguman saya berlanjut, ketika seorang tokoh 'otak kanan' menjual produk kursus membaca cepat untuk balita. Saya tertarik untuk membeli franchise nya, karena selain harganya cukup murah, daya jualnya juga cukup tinggi. Orang tua mana yang tidak mau melihat anak balitanya bisa membaca dengan cepat.

Kekaguman itu sama seperti kekaguman saya pada metode-metode psikologi instan yang banyak ditawarkan. Sebutlah NLP, Hipnosis, aktivasi otak tengah, analisis kepribadian lewat tulisan tangan dan sidik jari, serta metode lainnya. Mungkin jika ada metode instan "membuat anak pintar dengan menjentikkan jari", saat itu saya pasti sudah terkagum-kagum.

Sampai kemudian saya membaca tulisannya Muhammad Fauzil Adhim, seorang guru, ustadz, sekaligus pemerhati dunia pendidikan. Beliau banyak mengkritisi metode-metode pendidikan anak yang belum jelas fakta ilmiahnya. Sebut saja aktivasi otak tengah, metode mengajar dengan otak kanan, mengetahui kepribadian anak lewat sidik jari, dan sebagainya. Fakta ilmiah, dan bukan sekedar testimoni, disitulah letak perbedaan antara pseudo science (ilmu pengetahuan abal-abal di atas) dengan science (ilmu pengetahuan yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya).

Jadi, Kapan Saat yang Tepat Mengajarkan Anak Membaca?

Jawaban singkatnya, ketika anak sudah berumur 7 tahun.

Kenapa? Jawabannya akan sangat panjang. Tapi dalam tulisan ini, saya akan hanya akan memaparkan sebuah teori tentang perkembangan kognitif anak, yang menjadi dasar jawaban saya itu.

Adalah Jean Piaget, seorang ilmuwan yang pertama kali menyusun teori perkembangan kognitif. Menurut teori Piaget, kognitif (pikiran/kecerdasan) manusia berkembang seiring dengan kematangan biologis dan pengalaman yang didapat dari lingkungan. Perkembangan ini memiliki tahapan yang dibagi berdasarkan umur seseorang.

O iya, teori perkembangan kognitif yang disusun oleh Piaget ini termasuk ke dalam science ya. Karena teori ini telah banyak diteliti dan dibuktikan secara ilmiah, teruji validitas dan reliabilitasnya, dan dipakai sebagai dasar penelitian di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kembali ke teori di atas, secara umum, Piaget membagi perkembangan kognitif manusia ke dalam 4 tahap:

1. Tahap Sensori-Motor
Tahap sensorimotor berlangsung mulai dari lahir sampai kira-kira umur 2 tahun. Pada tahap ini, bayi membangun pengetahuan dan kecerdasannya berdasarkan interaksi fisik mereka dengan lingkungan.

2. Tahap Pre-Operasional
Tahap ini berlangsung dari umur 2 tahun, sampai kira-kira umur 7 tahun. Pada tahap ini, anak mulai belajar menggunakan gambar dan kata-kata untuk mewakili suatu benda/objek.

3. Tahap Konkrit-Operasional
Tahap ini berlangsung dari umur 7 tahun sampai kira-kira umur 11 tahun. Kita akan menggali lebih lanjut tahapan ini.

4. Tahap Formal Operasional
Tahap ini berlangsung mulai dari 11 tahun sampai remaja/dewasa. Pada tahap ini, anak remaja dan orang dewasa telah mampu mempelajari hal abstrak, dan menggunakan logika secara komprehensif.


Tahap Konkrit-Operasional dan Kesiapan Belajar Membaca

Apa saja sih yang ada di tahap konkrit-operasional? Terus hubungannya dengan kesiapan membaca anak? Baiklah, kita akan kupas satu persatu.

1. Seriation
Adalah kemampuan anak untuk menyortir/memisahkan benda-benda. Penyortiran ini bisa berdasarkan ukuran, bentuk, atau karakteristik lainnya. Contohnya, seorang anak yang diberikan semangkuk buah-buahan berbagai jenis. Anak ini menghabiskan seluruh potongan buah-buahan yang ada, dan hanya menyisakan potongan-potongan buah salak.

Hubungannya dengan membaca, seriation ini diperlukan anak untuk menyortir huruf-huruf. Membedakan antara 1 huruf dengan huruf lainnya. Terlebih, huruf-huruf yang mirip, seperti i & j, e & f, dsb. Tanpa kemampuan ini, anak akan kesulitan membedakan huruf-huruf yang ada.

2. Transitivity
Adalah kemampuan anak untuk mengenali hubungan antara 2 hal atau lebih. Contohnya: Jika anak mengetahui A = B, dan B = C. Dalam hal ini, anak tahu bahwa A = C. Contohnya dalam kemampuan membaca, jika anak tahu bahwa huruf 'b' + 'a', dibaca 'ba', dan anak tahu bahwa 'b' dan 'c' sama-sama huruf. maka tanpa dihafal pun, anak tahu bahwa huruf 'c' + 'a', dibaca 'ca'.

3. Classification
Adalah kemampuan anak untuk menyebut dan mengenali benda-benda berdasarkan bentuk, ukuran, dan karakteristik lain. Contohnya, jika diberikan sekeranjang mainan kayu berbagai bentuk dan warna, anak bisa mengelompokkan benda-benda itu berdasarkan bentuknya. Tapi jika disuruh mengumpulkan benda berdasarkan warnanya, anak juga bisa.

Hubungannya dengan baca-tulis, klasifikasi ini berguna untuk mengelompokkan huruf vokal dan konsonan. Juga mengelompokkan antara huruf, angka, dan tanda baca.

4. Decentering
Adalah kemampuan anak untuk melihat suatu hal/masalah dari berbagai aspek sekaligus. Contohnya, jika anak diberikan pilihan untuk memilih 2 permen. Kedua permen itu memiliki bentuk dan warna yang sama, tapi dengan rasa yang berbeda. Maka anak akan memilih permen dengan rasa yang paling disukainya, setelah juga mempertimbangkan bentuk dan warna permen.

Contohnya dalam baca-tulis: anak tahu bahwa huruf 'b' bisa ditempatkan di awal, tengah, atau akhir kalimat, dengan fungsi yang berbeda. Misalnya kata 'baca', 'coba', dan 'kitab'.

5. Reversibility
Adalah kemampuan anak untuk memahami bahwa angka dan benda bisa berubah, dan kembali ke bentuk aslinya. Contohnya, anak paham bahwa balon yang dibelikan untuknya, setelah beberapa kempes, tapi bisa dikembalikan ke bentuknya semula dengan cara meniup balon tersebut.

Hubungannya dengan baca tulis, jika anak hendak menulis kata 'anak', tapi setelah huruf 'a' anak terlanjur menulis huruf 'b', anak tidak akan menghapus seluruh huruf 'ab' itu, melainkan cukup menghapus huruf 'b' dan menggantinya dengan 'nak'.

6. Conservation
Adalah kemampuan anak untuk memahami, bahwa bentuk dan susunan suatu benda, tidak mempengaruhi jumlah dari benda tersebut. Contohnya, anak yang belum memiliki kemampuan conservation ini, akan menganggap air yang dipindahkan dari gelas dengan bentuk besar-pendek, ke gelas bentuk kecil-tinggi, berbeda jumlahnya. Sedangkan anak yang telah memiliki kemampuan ini, tidak akan tertipu dengan bentuk gelas.

Hubungannya dengan baca tulis, kemampuan conservation ini berguna bagi anak dalam membaca kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama, tapi susunannya berbeda. Contohnya kata 'anak' dan 'akan'.

Lalu, Kenapa Bayi yang Dilatih Flash Card Bisa 'Membaca'?

Salah satu metode pembelajaran paling awal dalam hidup manusia adalah metode asosiasi. Bayi yang baru lahirpun telah belajar melalui asosiasi, contohnya, menghubungkan air susu dan pelukan ibunya, dengan rasa nyaman. Sehingga ketika bayi membutuhkan rasa nyaman, ia akan menangis, minta dipeluk dan di-nenen-in.

Begitu juga dengan metode Flash Card nya Glenn Doman ini. Proses belajar yang terjadi bukanlah proses belajar membaca, melainkan proses belajar asosiasi. Bayi mengasosiasikan antara Flash Card yang dilihatnya, dengan kata yang diucapkan orang tuanya. Misalnya orang tuanya memperlihatkan tulisan 'ibu', sambil menyebut kata 'ibu' dari mulutnya, maka bayi pun mengasosiasikan kedua hal tersebut. Sehingga ketika nanti (setelah bisa bicara) bayi itu diperlihatkan flash card bertuliskan 'ibu', ia akan mengucapkan kata 'ibu' seperti yang pernah diajarkan orang tuanya.

Jika sahabat memiliki kenalan yang mengajarkan bayinya Flash Card seperti di atas, coba uji dengan memperlihatkan Flash Card bertuliskan 'itu', saya yakin, si bayi tersebut akan mengucapkan kata 'ibu' seperti yang pernah dipelajarinya. Mengapa? Karena tulisan 'ibu' dan 'itu' tuh mirip. Dan ya, si bayi sebenarnya memandang tulisan 'ibu' dan 'itu' tuh sebagai 2 buah GAMBAR yang mirip, bukan 2 buah tulisan.


NB:
  1. Usia 7 tahun disini merupakan usia rata-rata. Bisa saja anak kita memasuki Tahap Konkrit-Operasional pada usia yang kurang atau lebih. Untuk memastikannya, lakukan permainan-permainan yang menguji 6 kemampuan logika di atas (seriation, sampai conservation). Jika dirasa kemampuan-kemampuan logika itu telah ada, kita boleh saja mengajarkan mereka membaca, walaupun usia mereka belum 7 tahun.
  2. Apa yang terjadi jika kita mengajarkan anak membaca, padahal 6 kemampuan logika di atas belum ada? Bisa diibaratkan bunga yang dipaksa mekar, tentu juga akan cepat layu. Saya akan bahas ini di lain kesempatan.
  3. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tulisan ini. Tulisan paling sulit yang pernah saya buat. Maaf karena sudah cukup lama juga blog ini tidak diupdate.. :)