Menjadi Sahabat Anak Remaja

Menjadi Sahabat Anak Remaja
Guruku pernah bercerita tentang anak laki-lakinya. Dengan bangga beliau berkata bahwa anaknya sangat dekat dan sudah menganggapnya sebagai sahabat. Bahkan pernah suatu hari anaknya bercerita bahwa (maaf) kemaluannya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.

Aku yang mendengar cerita guruku itu merasa takjub. Kok bisa-bisanya ya, guruku yang begitu sibuk dengan berbagai kegiatan bisnis dan dakwahnya, sangat dekat dengan anak-anaknya. Apalagi anak remajanya itu. Masa remaja yang merupakan masa yang sangat rentan. Masa dimana anak-anak (kebanyakan) mulai menjauhi orang tuanya, dan berkumpul bersama teman-temannya. Masa yang menurut Erikson (1959) sebagai masa pencarian identitas.


Perkembangan Psikososial


Erik Erikson (bukan orang sunda ya, walaupun namanya ada pengulangan, hehe) adalah seorang tokoh psikoanalis yang mengemukakan teori psychosocial development (Perkembangan Psikososial). Menurut Erikson, setiap manusia yang sehat, harus melewati tahap demi tahap tumbuh kembang nya, mulai dari bayi, sampai beranjak tua.

Ada 8 tahap perkembangan, dan setiap tahap memiliki karakteristiknya tersendiri. Setiap tahap ditandai dengan adanya krisis psikososial. Orang yang berhasil melewati krisis psikososial tersebut akan mendapatkan virtues (kebajikan) yang sesuai dengan tahapnya. Dan dalam perjalanan memperoleh kebajikan ini, selalu ada significant relationship (tokoh penting) yang berperan. Dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas tahap remaja (13-19 tahun). Untuk tahap lainnya, insya Allah akan saya bahas di tulisan lain.

Identity vs Role Confusion

Masa remaja adalah peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Menurut Erikson, krisis psikososial yang dihadapi pada masa remaja adalah krisis Identitas vs Kebingungan Peran. Maksudnya apa? Baiklah, kalo sahabat memaksa, akan saya coba jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti.. :)

Ketika masa anak-anak, orang tua dan masyarakat cenderung memberi, entah itu makanan, pakaian, perhatian, kasih sayang, dan sebagainya. Anak-anak, tanpa usaha apapun, akan mendapatkan semua yang mereka butuhkan secara otomatis. Orang tua dan masyarakat memberikan hal-hal tersebut secara cuma-cuma, tak mengharapkan apapun sebagai balasannya.

Hal ini berubah ketika si anak beranjak remaja. Orang tua dan masyarakat mulai meminta 'pamrih'. Harapan dan keinginan terhadap anak, yang tadinya dipendam oleh orang tua, kini mulai diungkapkan kepada anaknya yang tumbuh remaja. Disinilah krisis mulai terjadi. Anak yang tadinya bebas gembira, menerima seluruh fasilitas yang ada, kini mulai dituntut macam-macam, mulai dari prestasi sekolah, tingkah laku yang lebih terjaga, nilai-nilai agama, sampai ke hal-hal kecil seperti cara berpakaian.

Singkatnya, ketika si remaja ini berhasil menyadari, bahwa selama ini ia mendapat banyak sekali hal dari orang tuanya, dan wajar jika ia memenuhi tuntutan orang tuanya, maka si remaja ini bisa dikatakan sukses melewati krisis. Kesuksesan ini membuat si remaja memperoleh kebajikan berupa fidelity (kesetiaan). Kesetiaan terhadap orang tua. Kesetiaan terhadap nilai-nilai yang ditanamkan orang tua. Kesetiaan terhadap proses take and give lainnya yang akan ia temui ketika dewasa nanti.

Tapi jika si remaja gagal melewati krisis ini - entah karena kurang pandainya orang tua dalam menyampaikan 'tuntutan' terhadap anaknya, atau faktor lingkungan dan teman yang tak mendukung - maka si remaja akan menghadapi Role Confusion (kebingungan peran). Si remaja mungkin akan memberontak terhadap harapan dan keinginan orang tuanya. Si remaja juga mungkin akan melawan nilai-nilai yang selama ini ditanamkan orang tuanya. Ke depannya, si remaja mungkin akan mengabaikan proses take and give, karena tak memperoleh kebajikan berupa kesetiaan.


Sahabat dan Tokoh Idola Remaja


Erikson mengungkapkan bahwa ada 2 tokoh penting (significant relationship) yang paling mempengaruhi perkembangan psikososial remaja. Pertama adalah peers (sekumpulan teman-teman dekat). Yang kedua adalah Role Model (tokoh idola).

Dalam kasus guruku di atas, nampaknya krisis masa remaja yang akan dilalui anak beliau akan menjadi lebih mudah. Kenapa begitu? Karena guruku telah berperan baik sebagai seorang sahabat bagi anaknya. Bahkan mungkin menjadi tokoh idola. Sehingga guruku dapat menyampaikan 'tuntutannya' pada si anak dengan mudah. DI sisi lain, si anak pun dapat langsung bertanya dan berdiskusi dengan ayah sekaligus sahabatnya itu, tanpa khawatir mendapatkan info-info menyesatkan seperti jika ia bertanya pada teman-teman sebayanya.

Jadi, sudahkah kita menjadi sahabat bagi anak kita?