Mendidik Diri = Mendidik Anak

Mendidik Diri = Mendidik Anak
Saya suka sekali minum teh pahit. Bukan teh instan atau teh celup, tapi teh tubruk yang direbus menggunakan air mendidih. Teh ini akan terasa semakin nikmat jika diminum dalam keadaan hangat.

Saya seringkali 'dibantu' anak saya Farid dalam proses membuat teh ini. Pertama-tama kami merebus air. Cukup segayung saja agar cepat mendidihnya. Kedua, kami mengambil sebungkus kecil teh tubruk dan menuangkannya ke dalam gelas besar. Terakhir, kami masukkan air mendidih ke dalam gelas besar. Aroma khas teh pun langsung merebak. Tapi sayangnya, butuh waktu agar teh menjadi hangat dan siap dinikmati.

Cukup 2 kali Farid 'membantu' saya membuat teh, dan anak saya yang berumur 15 bulan itu pun banyak menangkap hal dari kegiatan kami. Pertama, Farid dapat menyebut kata 'teh' dengan baik. Kedua, setiap melihat bungkus teh yang diletakkan di kamar, Farid langsung menyebut kata 'teh'. Ketiga, setiap melihat gelas besar yang biasa saya pakai untuk membuat teh, Farid akan berkata "A..ah.. Teh." Menghubungkan kata 'teh' dengan 'a..ah' (ayah). Keempat, Farid jadi sering menarik-narik bajuku, memegang bungkus teh, dan berkata "A..ah.. Teh." dengan maksud mengajakku membuat teh bersama. Akhirnya, kegiatan membuat teh ini menjadi kegiatan rutin kami, setiap hari.

Identifikasi Primer dan Role Model

Seperti yang pernah saya tulis di Mendidik Generasi Fans Club, bahwa Identifikasi adalah sebuah proses psikologis ketika seorang anak (atau bisa juga orang dewasa), mengasimilasi (mengadaptasi, menerima) nilai, tingkah laku, maupun penampilan dari Role Model. Freud (1897) membagi proses Identifikasi menjadi tiga: Primary Identification, Narcissistic (secondary) Identification, dan Partial (secondary) Identification. Dalam tulisan ini, kita hanya membahas Primary Identification atau Identifikasi Primer.

Identifikasi Primer adalah proses Identifikasi yang terjadi dalam masa-masa awal kehidupan seorang manusia. Dimulai ketika seorang anak lahir. anak ini tidak bisa membedakan mana dirinya, mana bundanya. Anak ini meng-Identifkasi dirinya sebagai sang bunda. Si anak menganggap bahwa bundanya adalah bagian dari dirinya. Ia adalah bunda, bunda adalah dirinya.

Setelah anak dapat membedakan dirinya sendiri dengan bunda, ayah, dan orang lain, proses Identifikasi Primer ini terus terjadi dalam alam bawah sadar si anak. Anak mengadopsi karakteristik (sifat, karakter) ayah, bunda, dan orang-orang terdekatnya. Anak mengasosiasikan dirinya dengan ayah, bunda, dan orang-orang terdekatnya. Anak juga meniru tingkah laku ayah, bunda, dan orang-orang terdekatnya. 

Karena proses Identifikasi Primer ini terjadi dalam alam bawah sadar, tanpa filter, langsung 'copy-paste', maka hasil dari proses Identifikasi Primer ini akan melekat terus sampai si anak menjadi dewasa dan tua. Identifikasi Primer ini sangat menentukan mau jadi apa dia kelak. Sangat berbeda dengan proses Partial Identification seorang anak ketika meniru band/artis idolanya.

Menjadi Ayah Teladan

Semenjak anak saya lahir, terjadi perubahan dalam hidup saya. Saya yang tadinya suka sekali naik gunung sendirian, kini selalu berpikir bagaimana agar anak saya bisa ikut. Saya yang cuek dengan hidup, kini selalu berpikir tentang kehidupan anak saya. Saya yang terkadang sembarangan dalam berkata dan bertindak, kini akan berpikir seribu kali untuk mengeluarkan ucapan dan melakukan tindakan.

Alasannya sederhana saja. Saya ingin menjadi ayah teladan untuk anak saya. Saya ingin agar anak saya meng 'copy-paste' hal-hal yang baik dari saya. Saya ingin anak saya mengadopsi sifat dan karakter baik saya. Saya ingin terus mendidik diri sendiri, terus melakukan perbaikan diri, karena bagi saya, mendidik diri = mendidik anak.

NB:
Mungkin jika 20 tahun lagi ditanya, apa makanan dan minuman kesukaan Farid, ia akan menjawab, "Bakso dan Teh Pahit." :)