Mendidik Anak Bermain Hujan

pendidikan anak bermain hujan
Dalam sebuah sesi training calon relawan Kidzsmile, saya pernah bertanya pada peserta, "Jika seorang ibu mengatakan: 'Jangan hujan-hujanan ya nak, nanti kamu sakit!' Menurut kalian, apa yang salah dengan pernyataan sang ibu itu?"

Para peserta lama terdiam. Hingga akhirnya ada salah seorang dari mereka yang menjawab, "Di kata 'jangan' kak. Penggunaan kata 'jangan' justru memicu si anak untuk melakukan hal tersebut. Bener khan kak?"

"Sampai saat ini, penggunaan kata 'jangan' dalam mendidik anak masih menjadi perdebatan. Tak ada penelitian ilmiah yang secara signifikan menunjukkan efek negatif dari kata 'jangan'. Ada yang punya jawaban lain?" Saya kembali bertanya.

Peserta terdiam. Karena tak ada lagi yang menjawab, maka saya pun menjawab sendiri pertanyaan saya, "Yang salah dari pernyataan si ibu terhadap anaknya itu adalah, ketika si ibu mengasosiasikan antara hujan dan sakit. Seolah-olah, jika si anaknya hujan-hujanan, si anak akan otomatis sakit. Padahal khan tidak otomatis seperti itu.

"Tapi karena masa anak-anak adalah masa dimana manusia sangat mudah di-sugesti, maka penggunaan asosiasi antara hujan dan sakit pun sangat efektif untuk mensugesti anak. Sehingga jika nanti si anak hujan-hujanan, sugesti sakit yang diberikan ibunya akan di-amin-kan oleh tubuh anaknya. Yang terjadi, si anak langsung sakit setelah main hujan-hujanan."

Para peserta training pun manggut-manggut.

Classical Conditioning

Adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang fisiologis terkenal dari Rusia yang memperkenalkan konsep Classical Conditioning. Awalnya, Pavlov melakukan percobaan terhadap seekor anjing. Anjing ini selalu mengeluarkan air liur ketika diberikan makanan. Seiring berjalannya waktu, ternyata anjing ini telah mengeluarkan air liur terlebih dahulu ketika melihat petugas laboratorium yang biasa memberinya makan, bahkan sebelum petugas itu memberinya makan.

Pavlov pun mengembangkan penemuannya itu. Setiap menjelang diberi makan, anjing itu diperdengarkan bel terlebih dahulu. Setelah itu, diberi makan dan diperiksa apakah anjing itu mengeluarkan air liur. Terus menerus. Sehingga pada satu titik, ketika diperdengarkan bel, anjing itu telah mengeluarkan air liur, bahkan walaupun tanpa diberi makanan sekalipun.

Air liur dalam hal ini merupakan respon alami (Unconditional Response/UR) seeekor anjing ketika menghadapi makanan. Makanan juga merupakan stimulus alami (Unconditional Stimulus/US) yang dapat memicu respon air liur si anjing. 
Makanan (US) -> Air Liur (UR)
Sedangkan bel yang diperdengarkan pada anjing tepat sebelum ia diberi makanan, merupakan stimulus buatan (Conditional Stimulus/CS).
Bel (CS) + Makanan (US) -> Air Liur (UR)
Lama-kelamaan, si anjing belajar menghubungkan antara bel dan makanan. Sehingga tanpa diberikan makananpun, si anjing telah mengeluarkan air liur. Ketika hal ini terjadi, maka air liur yang dikeluarkan si anjing ketika mendengar bel disebut respon buatan (Conditioned Response/CR).
Bel (CS) -> Air Liur (CR)
Temuan Pavlov ini menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya. Bukan hanya pada hewan, tapi juga pada manusia. Bahwa ternyata, salah satu metode pembelajaran yang dilakukan oleh manusia adalah melalui asosiasi. Menghubungkan antara satu hal dengan hal-hal lainnya. Hubungan ini tak harus natural (seperti makanan dengan air liur) tapi juga bisa hubungan artifisial/buatan/berasal dari proses pembelajaran (seperti bunyi bel dengan air liur).

Belajar Melalui Asosiasi

Proses belajar melalui asosiasi (associative learning) ini berkembang cukup pesat, hingga memunculkan sebuah metode pembelajaran populer sampai saat ini, yaitu metode belajar menggunakan hadiah (reward) dan hukuman (punishment). Sayang sekali, di tulisan ini saya belum akan membahas sampai situ.

Kembali ke cerita di atas. Seorang ibu yang melarang anaknya hujan-hujanan, dengan menghubungkan antara hujan-hujanan dengan sakit, sesungguhnya sedang membuat sebuah proses belajar melalui asosiasi. Hujan-hujanan sebagai stimulus alami (US), tentu akan menimbulkan respon alami (UR) berupa badan basah.
Hujan-hujanan (US) -> Badan basah (UR)
Ketika badan kita basah, kita mudah untuk merasa kedinginan, bersin, bahkan masuk angin. Apalagi ditambah dengan kondisi badan yang tidak fit. Badan yang kebasahan dalam waktu lama tentu akan menimbulkan rasa tidak enak di badan. Ujung-ujungnya, kita menjadi sakit.
Badan basah (US) -> Kedinginan, bersin, masuk angin, sakit (UR)
Ketika ada yang mengatakan kepada kita bahwa hujan-hujanan akan secara otomatis menyebabkan sakit, kemudian kita percaya, maka kita telah belajar sesuatu. Proses belajar ini bahkan mampu direspon tubuh dengan baik. Sehingga walaupun kondisi kita sedang fit, tapi karena kita percaya bahwa hujan-hujanan bisa menyebabkan sakit, maka ketika kita tidak sengaja terkena hujan, tubuh kita pun bisa langsung sakit.
Hujan-hujanan (CS) -> Kedinginan, bersin, masuk angin, kemudian sakit (CR)
Ditambah, jika yang mengajarkan proses di atas adalah seorang yang paling berpengaruh dalam hidup kita (dalam hal ini ibu), maka proses belajar tersebut akan terpatri sangat kuat di benak kita. Jadi, sudahkah kita mendidik anak bermain hujan? (loh.. :))