Seni dalam Pola Asuh Anak

Seni dalam Pola Asuh Anak
Ketika mahasiswa dulu, saya pernah berdebat dengan seorang teman terkait pola asuh anak yang terbaik. Teman saya berpendapat bahwa pola asuh anak terbaik tuh pola asuh permisif. Dia berargumen dengan memberikan contoh yang diterapkan di negara-negara barat sana. "Kehidupan dan pola asuh mereka yang permisif menjadikan negara mereka maju," Argumen teman saya.

Sedangkan saya berpendapat bahwa pola asuh anak terbaik justru pola asuh otoriter. Saya mengemukakan contoh keluarga tentara. Bahwa keluarga tentara turun temurun itu biasanya keluarga-keluarga yang sangat sukses. Sikap 1 komando prajurit, tentulah dibawa dalam pola asuh anak-anak tentara. Hal ini tentu melahirkan kedisiplinan luar biasa bagi anak-anak mereka. "Bukankah disiplin merupakan kunci kesuksesan?" Pungkas saya dalam debat kala itu.

Mengenang hal itu, sekarang saya hanya bisa tersenyum. Dua orang mahasiswa yang belum pernah menjadi orang tua, baru mengerti sedikit tentang teori perkembangan anak, sudah berdebat tentang pola asuh anak. Lucu.

Setelah dikaruniai anak, saya mulai membuka-buka lagi text book lama terkait perkembangan anak. Dan akhirnya menemukan halaman terkait pola asuh. Pola asuh menurut Maccoby dan Martin (1983), merupakan kombinasi dari 2 hal. Pertama adalah respon si orang tua terhadap anaknya (responsiveness), apakah orang tua mau mendengarkan anak, menuruti keinginan anak, (responsive), atau justru sangat cuek terhadap anaknya (unresponsive). Hal yang kedua adalah tuntutan orang tua terhadap anaknya (demand). Apakah si orang tua mengatur-atur dan menuntut banyak hal terhadap anaknya (demanding), atau justru membebaskan anaknya begitu saja (undemanding).

jenis pola asuh anak









Dari 2 kombinasi hal tersebut, lahirlah 4 jenis pola asuh anak.
  1. Pola Asuh Anak Authoritative/Propagative
  2. Pola Asuh Anak Otoriter
  3. Pola Asuh Anak Indulgent/Permisive
  4. Pola Asuh Anak Neglectful
Disini saya tidak akan membahas satu persatu jenis dan pengertian pola asuh anak tersebut. Disini saya hanya ingin berbagi, bahwa ternyata penerapan pola asuh anak tidak sesederhana perdebatan 2 orang mahasiswa psikologi yang baru belajar teori perkembangan anak. Dibutuhkan suatu fleksibilitas dalam menerapkan suatu jenis pola asuh anak, dan kecermatan dalam melihat situasi, kondisi.

Well, maybe that's why they called parenting is an art, not science.. :)