Pola Asuh Anak Tiri Bawang Putih

Pola Asuh Anak Tiri Bawang Putih
Ada yang masih ingat dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih? Dongeng yang cukup terkenal ini mengisahkan tentang keluarga Bawang Putih yang awalnya bahagia. Setelah ibu Bawang Putih meninggal, ayah Bawang Putih menikahi ibu Bawang Merah. Akhirnya, Bawang Putih harus tinggal bersama ibu tirinya dan saudara tirinya, Bawang Merah.

Pada awalnya, Bawang Merah dan ibunya bersikap baik terhadap Bawang Putih. Akan tetapi, lama-kelamaan mereka menunjukkan watak aslinya. Mereka mulai menganggap Bawang Putih sebagai babu, dan memperlakukan Bawang Putih dengan semena-mena. Tak ada sedikitpun perhatian dan kepedulian yang ditunjukkan ibu tiri Bawang Putih itu kepada anaknya. Jangankan merespon keinginan Bawang Putih, kebutuhan Bawang Putihpun kerap kali diabaikan oleh ibu tirinya. Bahkan, tuntutan dan kontrol sang ibu tiri terhadap Bawang Putih bukan demi kebaikan dan pendidikan anak tirinya tersebut, melainkan tuntutan dan kontrol sang majikan terhadap babunya.

Bagaimana cerita selanjutnya? Lagi-lagi saya tidak akan membahasnya di tulisan ini. Yang akan saya soroti disini adalah masalah pola asuh yang diterapkan ibu tiri Bawang Putih itu kepada anak nya. Di cerita ini kita mendapatkan gambaran tentang pola asuh anak neglectful (pengabaian/penyia-nyiaan). Perlu saya tekankan disini, bahwa pola asuh neglectful hanya dilakukan sang ibu tiri kepada anak tirinya Bawang Putih, bukan kepada anak kandungnya, Bawang Merah.

Seperti yang pernah saya tulis di Seni dalam Pola Asuh Anak, ada 2 hal dalam menyoroti jenis pola asuh. Pertama adalah responsiveness, kedua adalah demand. Pola asuh anak neglectful merupakan kombinasi antara orang tua yang unresponsive sekaligus undemanding.

pola asuh anak tiri
Ibu tiri Bawang Putih jelas sekali unresponsive terhadap anak tirinya, Bawang Putih. Ia tidak peduli terhadap Bawang Putih. Ia tidak mendengarkan keluh kesah, keinginan, dan mimpi-mimpi Bawang Putih. Bahkan kebutuhan Bawang Putih pun, jarang dipenuhi oleh ibu tirinya itu.

Di sisi lain, ibu tiri Bawang Putih juga undemanding terhadap Bawang Putih. Walaupun ia sangat ketat dalam mengontrol dan sangat sering menuntut Bawang Putih untuk melakukan sesuatu, tetapi kontrol dan tuntutannya bukan seperti ibu terhadap anaknya, melainkan majikan terhadap babunya. Tidak ada sedikitpun kebaikan dan pelajaran yang ia tanamkan dalam tuntutan pekerjaan yang ia bebankan kepada Bawang Putih. Amat berbeda dengan kontrol dan tuntutan yang saya bahas di tulisan, Otoriter Pola Asuh Anak Agen CIA.

Saya jadi teringat dengan cerita sahabat saya di Ibu Anak Manusia. Sahabat saya tiba-tiba menjadi ibu. Ia harus mengasuh 2 anak kembar yang ditinggalkan oleh ibu aslinya.

Meninggalkan, membuang, menyia-nyiakan, dan mengabaikan anak yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan, ijinkan saya untuk menyebutnya dengan pola asuh anak setan.