Pola Asuh Anak Authoritative vs Propagative

Pola Asuh Anak Authoritative vs Propagative
Aku pernah punya teman yang dibesarkan dengan pola asuh baik. Orang tuanya sangat supportive dan responsive terhadap keinginan dan kebutuhan anaknya. Sedangkan di sisi lain, orang tuanya juga memiliki harapan terhadap anaknya. Harapan agar anaknya tumbuh menjadi orang baik. Harapan agar anaknya dapat masuk kuliah di universitas ternama, lulus, dan mendapat pekerjaan yang sesuai.

Karena pola asuh ini, temanku pun berhasil memenuhi harapan orang tuanya. Satu demi satu. Ia masuk ke SD negeri yang bagus. Melanjutkan SMP favorit di kotanya. Lulus SMP dengan NEM terbaik kedua di kotanya, temanku melanjutkan masuk SMA terbaik se-Indonesia. Setelah itu, ia masuk ke universitas ternama di bandung, sebelum akhirnya masuk ke universitas yang membawa nama Indonesia. Setelah 5 tahun, akhirnya temanku lulus dan menghadapi dunia kerja. Tapi dari sinilah masalah itu muncul.

Ternyata temanku tidak memiliki passion untuk kerja sesuai dengan jurusan kuliahnya. Ia lebih senang menulis, dan berwirausaha. Ia memang pernah kerja di perusahaan dan instansi yang sesuai dengan jurusannya, tapi itu tidak bertahan lama. Ia kembali bergelut dalam dunia kepenulisannya dan merintis jalan menjadi seorang wirausaha muda.

Dari sinilah mulai muncul perbedaan pendapat dengan orang tuanya. Orang tuanya menganggap bahwa lebih baik temanku mencari kerja. Menggunakan ijasah yang sudah capek-capek didapatnya. Tapi temanku keukeuh dengan pendiriannya. Ia akan menempuh dunia kepenulisan dan wirausaha, walaupun ia harus mengorbankan kemapanan instan yang telah dicapai terlebih dahulu oleh teman-teman seangkatannya.

Perbedaan inilah yang akan kita bahas disini. Perbedaan antara temanku dengan orang tuanya. Perbedaan yang seharusnya bisa disatukan sejak dini, tapi nampaknya tidak terdeteksi oleh si orang tua. Perbedaan yang membedakan antara pola asuh propagative dengan pola asuh authoritative.

pola asuh anak authoritative vs propagative
Seperti yang pernah kubahas di Seni dalam Pola Asuh Anak, bahwa pola asuh authoritative adalah pola asuh yang di satu sisi demanding, tapi di sisi lain responsive. Dalam contoh kasus temanku itu, orang tuanya cukup demanding. Orang tua temanku memiliki harapan dan targetan tertentu pada anaknya. Harapan dan targetan tersebut berupa sekolah favorit, PTN favorit, dan pekerjaan favorit.

Di sisi lain, orang tua temanku juga responsive. Mereka menyediakan kebutuhan anaknya dengan baik. Mendampingi dan membimbing anaknya belajar. Mendukung anaknya ketika ingin ngekost sejak SMA. Dan mendukung pilihan jurusan PTN yang diambil temanku. Maka dari itu saya menyimpulkan bahwa pola asuh yang digunakan oleh orang tua temanku adalah pola asuh authoritative.

Menurut Dr. Annette Lareau, seorang professor di University of Pennsylvania, ada 2 tipe pola asuh yang biasa ditemukan pada kelas menengah, yang pertama adalah natural growth, yang kedua adalah concerted cultivation. Pola asuh yang digunakan oleh orang tua temanku di atas, selain masuk dalam kategori pola asuh authoritative, juga masuk dalam kategori natural growth.

Sedangkan pola asuh concerted cultivation, adalah pola asuh authoritative yang lebih terstruktur. Terstruktur seperti apa? Terstruktur dalam 2 hal. Pertama, orang tua tidak hanya responsif terhadap anak. Tapi juga harus memperhatikan dan menganalisis secara mendalam minat anaknya. Kedua, orang tua juga tidak hanya demanding. Tapi juga harus memiliki demand yang sesua dengan bakat anaknya. Minat dan bakat, inilah yang membedakan antara pola asuh propagative/concerted cultivation dengan pola asuh authoritative/natural growth.

Minat dan bakat seperti apa? Concerted cultivation tuh penerapannya bagaimana? Kita bahas setelah pesan-pesan berikut ini.. :D