Pendidikan Benci CInta Anak Palestina

Pendidikan Benci CInta Anak Palestina
Ada 2 fenomena menarik dari anak-anak Gaza, Palestina. Pertama, anak-anak Gaza begitu dekat dengan Al Qur'an. Hal ini telah saya bahas sedikit di tulisan Pola Asuh Anak Gaza Palestina. Sejak kecil anak-anak ini memang telah ditanamkan rasa cinta yang mendalam pada Al Qur'an. Tak hanya dalam keluarga, dalam lingkup pemerintahan pun hal ini sangat ditekankan. Program "Generasi Qur'an untuk Al Aqsha" merupakan contoh nyata bagaimana pemerintah Hamas disana, turut menanamkan rasa cinta Al Qur'an pada anak-anak Gaza.

Fenomena menarik yang kedua adalah, anak-anak Palestina begitu membenci tentara Zionist Israel. Banyak sekali gambar di internet yang memperlihatkan bagaimana anak-anak ini mengekspresikan kebenciannya pada tentara Israel. Ada anak-anak yang melempari tentara Israel dengan batu. Ada anak-anak yang melempari tank dan kendaraan Israel. Ada juga yang begitu berani berkonfrontasi dengan tentara, mengacungkan tinju dan jarinya.

Ketika mempelajari tentang new age parenting, saya begitu tertarik dengan konsep yang diusungnya. Konsep ini sangat menekankan pada pendidikan cinta, reward (hadiah), dan kata-kata positif pada anak. Di sisi lain, konsep ini sangat menghindari pendidikan tentang kebencian, segala bentuk punishment (hukuman), dan penggunaan kata 'tidak', 'jangan', serta kata-kata negatif lainnya.

Ketertarikan ini saya salurkan dengan membaca berbagai sumber terkait dengan new age parenting tersebut. Mempelajari langsung dari sumbernya. Dan menelaah induknya, yang dalam hal ini Neuro-Linguistic Programming (NLP) serta Hipnosis. Bahkan sampai ke rahim filsafat yang menelurkannya, yaitu postmodernisme.

Tapi memang sifat dasar saya yang kritis, ketertarikan saya pun seiring sejalan dengan sifat kritis saya. Berbagai pertanyaan terkait konsep ini pun bermunculan di benak saya:

"Bener gak sih parenting yang kayak gini?" 

"Kenapa kita gak boleh mengajarkan kebencian pada anak?"

"Kenapa anak gak boleh dihukum kalau salah?" 

"Kenapa gak boleh menggunakan kata 'tidak' dan 'jangan' untuk mendidik anak?" 

"Konsep ini ilmiah gak sih? Gimana reliabilitas dan validitasnya?"

"Kenapa begini...?"

"Kenapa begitu...?"

Hingga akhirnya sifat praktis saya muncul dan menimbulkan satu pertanyaan: "Sejauh mana efektivitas konsep ini dalam membantu mendidik anak saya?"

Di tulisan ini saya gak akan membahas lebih lanjut tentang new age parenting. Disini saya ingin berbagi contoh parenting yang dipraktekkan oleh orang tua di Gaza, Palestina. Bahwa selain mendidik tentang cinta, para orang tua di Palestina juga mendidik tentang benci. Dan dengan pola asuh seperti ini, mereka mampu bertahan dari penindasan Israel. Mereka mampu melahirkan mujahid-mujahid yang berani mati menjemput syahid. Mereka mampu terus memberikan perlawanan sampai sekarang.

Jadi, bukan masalah, apakah kita harus menekankan pendidikan tentang cinta, dan menghindari doktrinasi tentang benci pada anak kita. Yang harus menjadi titik tekan kita adalah, pendidikan cinta dan benci kepada apa. Anak-anak dan orang tua di Gaza, Palestina mengajarkan kepada kita, bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengajarkan cinta kepada kebaikan, dan di sisi lain mengajarkan benci kepada kejahatan serta ketidakadilan.