Mendidik Generasi Fans Club

Mendidik Generasi Fans Club
"I Heart You"
Pernah mendengar itu? Kata-kata itu begitu populer beberapa tahun lalu. Dipopulerkan oleh boyband Smash. Awalnya, saya mengira kemunculan Smash adalah sebuah lelucon. Atau paling tidak, boyband ini akan tenggelam setelah merilis album pertamanya. Tapi ternyata saya salah.

Kemunculan Smash justru menandai kemunculan boyband dan girlband lainnya. Max5, Cherry Belle, 7 Icons, Super Girlies, dan lain-lain merupakan contoh boyband dan girlband Indonesia. Bahkan terakhir muncul boyband dengan personil yang masih sekolah di SD dan SMP, yaitu Cowboy Junior. Dukungan media, sinetron (yang beberapa menceritakan tentang kisah hidup personil boyband dan girlband itu), dan fans menjadikan boyband dan girlband terus bertahan dalam belantika musik Indonesia.

Konsep Role Model dan Identifikasi

Adalah Freud seorang tokoh psikoanalist yang pertama kali memperkenalkan konsep Identifikasi. Menurut Freud (1897), Identifikasi adalah sebuah proses psikologis ketika seorang anak (atau bisa juga orang dewasa), mengasimilasi (mengadaptasi, menerima) nilai, tingkah laku, maupun penampilan dari Role Model.

Contohnya seorang anak laki-laki yang melakukan proses Identifikasi terhadap ayahnya (sebagai Role Model). Anak laki-laki ini setiap hari berinteraksi dengan ayahnya, memperhatikan tingkah laku ayahnya, mencatat apa yang ayahnya suka dan benci, dan melihat bagaimana ayahnya berpenampilan. Maka, secara sadar ataupun tidak, anak laki-laki ini akan meniru ayahnya.

Identifikasi Bisma, Anggota Smash

Sebut saja Aldi, saudara jauh saya yang sekarang duduk di kelas 2 SMP. Awalnya, anak ini tidak suka dengan boyband Smash. Tapi karena gempuran media yang ditontonnya, ditambah pengaruh teman-teman perempuannya yang banyak mengidolakan Smash, akhirnya Aldi pun mulai menyukai Smash.

Motif awalnya mendalami Smash cukup pintar. Ia ingin punya bahan cerita, lagu, dan amunisi untuk ditunjukkan kepada teman-teman perempuannya. Tapi semakin sering ia menonton pertunjukkan Smash. Semakin sering ia menonton sinetron Cinta Cenat Cenut. Semakin ia menyukai boyband Smash. Bahkan, Aldi mulai mengidentifkasi dirinya dengan Bisma, salah seorang anggota Smash. Aldi membelah rambutnya di samping seperti Bisma. Aldi meminta dibelikan baju-baju yang dipakai oleh Bisma. Bahkan, Aldi mulai menyukai Cuankie, jajanan favorit Bisma.


Ragam Sifat dan Karakter Anggota Boyband/Girlband

Pada dasarnya, manusia menyukai dirinya sendiri. Maka dalam ilmu psikologi ada konsep yang dinamakan mirroring. Yaitu kita meniru tingkah laku, gerak, gaya bicara, dan atribut orang lain, agar orang tersebut menyukai kita. Karena semakin mirip seseorang dengan kita, maka kita pun akan semakin menyukai orang tersebut.

Mungkin ini sebabnya, Aldi menyukai Bisma. Banyak kemiripan antara Aldi dan Bisma. Mulai dari tanggal lahir, zodiak, hobi, dan agama. Di lain pihak, Aldi sangat tidak menyukai Morgan, walaupun sama-sama anggota Smash, karena terlalu banyak perbedaan antara Aldi dan Morgan.

Dan mungkin ini sebabnya, fenomena boyband/girlband keroyokan ramai dan laku di pasaran. Semakin banyak dan beragam anggota suatu boyband/girlband, maka semakin beragam dan luas pula calon fans yang memiliki kesamaan dengan para anggota. Dengan demikian, para fans dapat memilih 1 orang yang paling mirip dengan mereka untuk dijadikan Role Model. 

NB:
  1. JKT 48, yang merupakan copy-paste dari AKB 48, mungkin merupakan band keroyokan di Indonesia yang memiliki personil terbanyak. Dengan 26 personil, akan tercipta 26 calon Role Model bagi fans mereka.
  2. Cowboy Junior yang beranggotakan anak-anak SD dan SMP tentunya merupakan calon Role Model yang menyasar anak-anak SD dan SMP.
  3. Relakah kita dengan fenomena ini? Bagi saya ini adalah tantangan besar. Sebagai orang tua, saya akan mendidik anak-anak saya untuk melakukan Identifikasi terhadap seseorang yang memang layak dijadikan Role Model.