Mendidik Anak ku Menjadi Guru

Mendidik Anak ku Menjadi Guru
Aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang guru. Dari kecil, cita-citaku selalu berubah. Dari mulai dokter, pilot, sampai terakhir, ingin menjadi seorang anggota baret merah Kopassus.

Tapi kenyataan menunjukkan hal lain. Pekerjaan pertamaku - yang resmi - semenjak keluar dari kampus justru menjadi semacam guru. Namanya saja psikolog asrama, tapi peran guru justru cukup besar di dalamnya. Hal ini telah kuceritakan sebelumnya di tulisanku yang berjudul Pentingnya Komunikasi dalam Pendidikan Anak.

Setelah keluar dari SMP Al Kausar, aku bergelut dalam dunia training. Secara resmi nama pekerjaannya adalah trainer atau fasilitator. Tapi secara tidak resmi, tugas utamaku adalah mendidik dan menggurui orang lain, walaupun tidak secara langsung.

Barulah pada tahun 2010, aku secara resmi bertitel sebagai seorang guru. Aku menjadi seorang guru sekaligus konselor pendidikan di SMP Al Islah Pandeglang (pesantren). Walaupun peranku ganda disana, tetapi pada hakekatnya, kedua peranku itu adalah peran seorang guru. Seorang guru yang langsung mengajari anak-anak SMP yang belajar dan nyantri disana. Dan seorang konselor pendidikan yang mendidik dan mentransfer metode Multiple Intelligent kepada para guru disana.

Kenapa Guru?

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa semakin terlibat seseorang dalam materi yang dipelajarinya, maka materi itu akan semakin melekat dalam ingatan orang tersebut. Orang yang hanya membaca suatu materi dari buku, akan lebih cepat melupakan materi tersebut, dibandingkan jika dia mendengar (dan melihat) orang lain mempresentasikan materi tersebut. Tapi, orang yang mendengar dan melihat seseorang mempresentasikan suatu materi pun, akan lebih cepat melupakan materi tersebut, dibandingkan dengan orang yang terlibat, bergerak, dan berkegiatan yang terkait dengan materi tersebut. Salah satu kegiatan yang dimaksud adalah menjadi orang yang mempresentasikan dan mengajarkan materi tersebut pada orang lain.

Ada cerita menarik terkait hal ini. Tiga orang sepupuku yang masih kelas 2 SD, sebelum ujian/test biasanya mereka belajar bersama. Entah siapa yang mengajari mereka, metode belajar mereka menurutku cukup unik. Mereka biasanya bergantian dalam bermain peran menjadi guru dan murid. Anak yang berperan menjadi guru, akan mengajari anak-anak lainnya yang berperan menjadi murid. Bahkan setelah sesi ajar mengajar itu, sang guru akan mengetes murid-muridnya terkait materi yang mereka pelajari.

Bagaimana hasil tes ketiga sepupuku itu? Saya tidak menanyakan hal tersebut kepada mereka. Tapi saya yakin, hasil tes mereka lebih baik dibandingkan jika mereka belajar masing-masing di rumahnya.

Hubungannya dengan pendidikan anak?

Ada 3 hal yang selalu melekat dalam benakku terkait dengan dunia ilmu pengetahuan. Pertama, "..dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Maka, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain adalah hal yang akan selalu kuajarkan pada anakku.

Kedua, Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim). Maka, menjadi orang yang memanfaatkan ilmunya, adalah hal yang juga akan kuajarkan pada anakku.

Ketiga, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Belajar dan mengajar adalah sebuah keniscayaan. Maka mendidik anak kita menjadi guru adalah sebuah keharusan. Bukan hanya guru di sekolah dan kelas. Tapi guru dalam kehidupan sehari-hari. Karena bagaimanapun, kita semua adalah guru, paling tidak bagi anak-anak kita.

Selamat Hari Guru!