Mendidik Anak Keledai

Mendidik Anak Keledai
Tadi malam aku menonton sebuah acara di salah satu tivi swasta. Acara kuis ini berjudul Penantang Terakhir. Kuis ini mengharuskan peserta untuk menjawab pertanyaan dengan jawaban 'betul' atau 'salah'. Pertanyaan yang diajukan pun tergolong unik dan jarang diketahui - kalau tidak bisa dibilang sulit sekali. Tapi peserta diberi pilihan, apakah ia ingin menjawab pertanyaan itu sendiri, atau melemparkan pertanyaan tersebut ke lawan-lawannya.

Sepintas, acara kuis ini terlihat bermanfaat. Apalagi, setelah menonton kuis ini, kita mendapat informasi-informasi baru yang jarang sekali kita temukan. Informasi seperti durasi menguap wanita ternyata lebih pendek dari durasi menguap pria. Atau uang tips ternyata singkatan dari 'To Insure Prompt/Proper Service'. Dan informasi unik lainnya.

Sampai sifat kritisku muncul. Oke, kita mendapat banyak informasi baru. Tapi apa gunanya informasi-informasi ini bagiku? Apakah informasi ini bisa mengubah nasibku? Apakah informasi ini relevan dengan hidupku?

Kemudian aku teringat dengan teknik speed reading yang pernah kupelajari. Dulu aku berpikir bahwa speed reading adalah teknik wajib bagi era informasi seperti sekarang ini. Milyaran informasi mengalir dari internet, tivi, koran, majalah, dan media lainnya. Tanpa kemampuan speed reading, mustahil bagi kita untuk membaca itu semua dengan waktu terbatas yang kita miliki.

Ternyata teknik speed reading bukan satu-satunya. Ada teknik membaca yang lebih canggih. Teknik yang diperkenalkan oleh pakar NLP ini menggunakan teknik relaksasi, hipnosis, dan alam bawah sadar kita untuk menyerap informasi. Teknik ini dinamakan Unconcious Blitz Reading. Teknik ini diklaim mampu digunakan untuk membaca buku yang sangat tebal hanya dalam waktu kurang dari 1 jam. Juga bisa digunakan untuk menyerap ribuan halaman informasi di internet dalam waktu super singkat.

Saat itu aku berpikir untuk mengajarkan teknik-teknik ini kepada anak-anak. Kepada sepupu-sepupuku. Kepada anak-anak di TPA tempatku mengajar. Bahkan aku berencana untuk membuka bisnis pelatihan terkait teknik membaca ini.  Orang tua mana yang tak tergiur melihat anaknya mampu melahap banyak buku dalam waktu singkat. Mereka pasti rela mengeluarkan uang banyak untuk teknik instan seperti ini.

Sebelum rencanaku terwujud, kembali aku berubah pikiran. Seorang guru virtualku mengingatkan bahwa ada perbedaan signifikan antara informasi, pengetahuan dan kebijaksanaan. Anak yang melahap jutaan informasi random dalam satu hari, mungkin akan melupakan informasi itu di hari berikutnya. Akan berbeda jika anak tersebut melahap informasi yang terstruktur. Kemudian informasi itu dikaitkan dengan informasi sebelumnya yang ia miliki. Jadilah sebuah pengetahuan yang tidak mudah dilupakan.

Tetapi, pernahkan sahabat mendengar kisah keledai yang yang membawa kitab-kitab tebal di punggungnya. Keledai yang memikul pengetahuan itu, ternyata tak mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam hidupnya. Persis seperti orang-orang pintar yang tak mampu menggunakan kepintarannya untuk kebahagiaan hidup orang tersebut. Dan disinilah kita berbicara tentang kebijaksanaan.

Disini aku tidak kontra terhadap eksplorasi pengetahuan, dengan berbagai tekniknya yang luar biasa. Disini aku hanya berusaha untuk mencari yang lebih baik lagi. Dan kebijaksanaan, menurutku adalah sesuatu yang wajib ditanamkan, sebelum memborbardir anak ku dengan beragam pengetahuan. Lagipula, aku tak ingin mendidik seekor anak keledai.