Mendidik Anak Bermotivasi Tinggi

mendidik anak bermotivasi tinggi
Saya pernah mendampingi sahabat saya mengisi training motivasi. Temanya sangat mendasar, yaitu tentang apa itu motivasi, dan bagaimana memanfaatkannya dalam kehidupan kita. Tapi mungkin saking mendasarnya, saya justru mendapat banyak pencerahan. Training ini membuat saya mengevaluasi lagi, apa sih motivasi yang melandasi saya menjalankan segala pekerjaan saya selama ini.

Disini saya tidak akan membahas tentang teori motivasi secara mendalam. Saya justru tertarik membahas pertanyaan dari salah seorang peserta training, "Kak, saya tuh semangat banget kalo ikut training-training kayak gini. Dan sangat termotivasi. Tapi biasanya sih semangatnya hanya bertahan satu minggu. Kesananya udah gak semangat lagi. Nah pertanyaan saya, gimana sih kak biar kita tetap semangat terus? Tetap termotivasi terus walaupun gak ada training kayak gini?"

Sahabat saya pun menjelaskan panjang lebar tentang motivasi internal dan motivasi eksternal. Serta kenapa kita harus senantiasa menumbuh kembangkan motivasi internal dalam kehidupan kita, dan mengurangi ketergantungan kita terhadap motivasi eksternal.

Motivasi dalam Pendidikan Anak

Sebenarnya, apa sih perbedaan antara motivasi eksternal dengan motivasi internal? Terus apa hubungan keduanya dengan pendidikan anak kita?

Sebelum membahas hal itu, saya ingin bercerita tentang 2 orang anak SD yang duduk sekelas di kelas lima. Anak pertama kita sebut saja namanya Adi. Ia termasuk anak yang pandai, bahkan sering menduduki rangking 1 di kelasnya. Ketika ditanya kenapa ia bisa mendapat rangking 1, Adi menjawab, "Kalau aku dapet rangking 1 di kelas, Mama berjanji membelikanku sepeda baru. Itu tuh, sepeda yang bisa goyang gitu. Lucu deh."

Sedangkan anak kedua bernama Arif. Arif juga anak yang pandai. Bahkan kerapkali ia bersaing dengan Adi dalam menduduki peringkat 1 di kelas mereka. Ketika ditanya kenapa Arif bisa mendapat rangking 1, ia menjawab, "Gak tahu kenapa. Mungkin karena aku suka membaca kali ya. Itu salah satu hobiku. Setiap hari aku membaca. Buku apa saja dari pelajaran, komik, buku cerita atau majalah-majalah yang dibelikan ayah bunda."

Kedua anak itu mirip, tapi sangat berbeda. Adi dididik dengan iming-iming hadiah. Sehingga kegiatan belajarnya di sekolah dimotivasi oleh hadiah dari mamanya. Dengan demikian, Adi memiliki motivasi eksternal dalam belajar. 

Sedangkan Arif, sejak kecil dididik untuk mencintai kegiatan membaca. Bundanya selalu menghadiahkannya buku bacaan, komik, dan majalah. Walaupun Arif baru bisa membaca ketika kelas 1 SD, tapi interaksinya dengan buku dan bacaan dimulai sejak masih bayi. Sehingga tak heran, ketika Arif sudah bisa membaca, ia akan membaca apapun yang ada. Karena ia suka membaca. Dan karena hobinya membaca itulah, ia mampu menduduki peringkat 1 di kelasnya.

Mungkin Arif tidak memiliki motivasi untuk menjadi juara kelas. Tapi Arif memiliki motivasi yang tinggi untuk membaca. Membaca apa saja, termasuk buku-buku pelajarannya. Dan karena hobinya membaca tersebut, Arif bisa menjadi juara kelas.

Reward-Punishment Kebablasan

Akhir-akhir ini, mungkin sahabat sering sekali membaca tentang pentingnya hadiah (reward) dalam mendidik anak. Hadiah berupa pujian, kata-kata positif, ataupun berupa materi, begitu seringnya dianjurkan ketika anak berprestasi. Seolah ingin melawan arus kolot yang mendidik anak berbasis hukuman (punishment), para pengusung reward ini bahkan menganjurkan untuk meniadakan sama sekali hukuman dalam proses pendidikan anak.

Harus diakui memang, reward cukup penting dalam mendidik anak. Pujian dan kata-kata positif ketika anak melakukan sesuatu yang baik, sudah seharusnya kita lakukan. Tapi ada situasi tertentu dimana punishment juga diperlukan. Kita tidak boleh mempertentangkan dua hal yang saling melengkapi tersebut.

Dan satu hal yang paling penting yang menjadi inti tulisan saya ini adalah: didik anak agar mencintai apa yang mereka lakukan. Reward dan punishment saja tidak cukup. Karena itu hanya membuat mereka menjadi generasi momentum, generasi yang hanya berprestasi jika ada reward yang dikejar, atau punishment yang dihindari.

Didik anak kita mencintai apa yang mereka kerjakan. Sehingga mereka akan terus bekerja dan bekerja, walaupun tanpa reward dan punishment. Karena ketika mereka terus bekerja dengan sepenuh hati, hanya tinggal selangkah bagi mereka untuk mencapai puncak prestasi.

NB:
  1. Tadinya tulisan ini hendak diposting pada 20 Desember 2012, yap, 20122012, angka cantik. Tapi ternyata saya disibukkan dengan berbagai hal. (baca: mencari motivasi untuk menulis lagi.. :))
  2. Saya akan membahas motivasi dan hubungannnya dengan dunia anak secara mendalam, tapi nanti. Harap bersabar.. :)
  3. Anyway, jangan tunggu tahun baru untuk berubah menjadi lebih baik ya.. :)
Comments
2 Comments

2 comments:

  1. didik anak agar mencintai apa yg dilakukannya. sip ka.. bahwa anak bukan hewan yg hanya bisa dididik dg reward dab punishment. makasih kaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Fars. Semoga bermanfaat dan bisa segera dipraktekkan ilmunya.. :)

      Delete

Jika ada saran, komentar, atau ingin berbagi pengalaman, silahkan sahabat tulis disini.. :)