Selamat Hari Ibu.. :)

Previous Next
tentang www.senyumanak.com

Tentang SenyumAnak.com

Hal-hal yang perlu sahabat ketahui tentang www.senyumanak.com

teori tumbuh kembang pola asuh pendidikan senyum anak

Teori Senyum Anak

Beberapa teori dasar yang perlu kita ketahui untuk menghadirkan Senyum Anak kita.

senyum anak pendidikan islam

Senyum Anak Islam

Hal-hal apa sajakah yang perlu kita ketahui tentang mendidik anak secara Islami? Apa yang dikatakan Al Qur'an dan Sunnah tentang anak, pengasuhan, perkembangan, dan pendidikan mereka?

flash fiction senyum anak

Flash Fiction Senyum Anak

Flash fiction/fiksi mini Senyum Anak adalah potret kehidupan anak-anak yang lucu dan penuh senyum.

Mendidik Anak Menjadi Mister dan Miss World

mendidik anak menjadi mister dan miss world
Ketika masih mahasiswa dulu, saya pernah bertanya kepada salah seorang dosen saya terkait ajang kompetisi anak-anak yang saat itu mulai ramai digelar. Dosen yang terkenal sebagai dosen selebriti, karena rajin tampil di tivi dan berbagai media tersebut, menjawab bahwa kompetisi pada takaran tertentu justru diperlukan dalam kehidupan anak. Namun apakah kompetisi itu bisa dipertontonkan kepada banyak orang, itu yang masih diperdebatkan. Belakangan saya baru tahu bahwa dosen tersebut menjadi salah satu juri di acara reality show yang melibatkan anak-anak.. ^__^

Namun dari diskusi dengan dosen selebriti tersebut, saya mendapat 2 poin penting terkait lomba-lomba di televisi yang melibatkan anak-anak. Poin pertama adalah terkait festivalisasi kompetisi. Dalam hal ini. apakah orang tua menganggap baik suatu ajang kompetisi dimana anaknya berlomba dengan disaksikan banyak orang ataukah tidak? Sedangkan poin kedua adalah tentang nilai suatu aspek yang diperlombakan. Apakah nilai penting yang dianggap penting oleh orang tua, sehingga menjadikan nilai-nilai tersebut layak untuk dikompetisikan?

Festivalisasi Kompetisi Anak

Di awal saya menjadi orang tua, dan mulai berteman dengan banyak ibu-ibu di dunia maya, ada banyak permintaan dari mereka untuk me-like sebuah link tertentu. Setelah saya buka, ternyata link tersebut mengarah kepada foto anak-anak mereka yang sedang diperlombakan. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya. Dan karena saya menyukai anak-anak, maka setiap permintaan 'like' tersebut saya tanggapi, walaupun banyak diantara mereka yang saling berkompetisi.

Namun ini bukanlah contoh festivalisasi kompetisi pada anak yang saya maksud. Lomba foto anak di Facebook tersebut merupakan kompetisi diantara para orang tua yang sama sekali tidak melibatkan anak-anak mereka. Dengan demikian, hal tersebut tidak ada/sangat sedikit efeknya bagi perkembangan anak-anak mereka.

Disebut ajang festivalisasi kompetisi pada anak jika:
  1. Anak dilibatkan secara langsung, dipersiapkan, dan dilatih untuk hal tersebut
  2. Anak diminta menunjukkan kemampuannya pada orang banyak
Ada dua contoh yang menurut saya berseberangan dan bisa dijadikan dasar bahwa festivalisasi kompetisi ini suatu hal yang debatable, kontradiktif. Contoh pertama adalah lomba cerdas cermat anak. Contoh kedua adalah lomba peragaan busana anak. Kecerdasan dan kecermatan anak dalam menjawab soal pada lomba cerdas cermat, tentu saja sangat berbeda dengan kemampuan anak berlenggak-lenggok di atas panggung. Namun hal ini menjadi relatif jika poin kedua yang dipegang orang tuanya berbeda. Poin ini adalah tentang nilai.

Nilai 

Berbicara tentang nilai, berarti berbicara tentang apa yang dianggap paling penting dan paling baik bagi seseorang. Jika seseorang menganggap penting dan baik ajaran agama yang dianutnya, maka ajaran agama tersebut akan menjadi nilai yang menjadi patokan dalam pikiran, perasaan, dan tindakannya. Namun jika patokan nilai seseorang disandarkan pada film yang ditontonnya, musik yang didengarkannya, dan tayangan televisi yang setiap hari ditontonnya, bisa jadi nilai yang dianutnya pun berbeda.

Orang tua yang memegang teguh nilai agama di keluarganya, tentu akan melarang anaknya berkompetisi dalam hal-hal yang melanggar nilai agama yang dianutnya. Misalnya jika orang tua adalah seorang muslim yang taat, tentu akan melarang anaknya mengikuti festivalisasi kompetisi semacam miss world yang memamerkan aurat anak perempuan mereka ke seluruh dunia.

Namun jika nilai yang dianut orang tua berasal dari televisi, tentu mereka akan bangga jika anaknya menjadi terkenal dan ditonton seluruh dunia. Tak peduli dengan aurat terbuka, ataupun kebodohan yang dipertontonkan anaknya.

NB:
  1. Terkait festivalisasi kompetisi ini, saya sendiri termasuk orang yang tidak menyetujui. Apalagi jika itu diterapkan pada anak-anak. Saya termasuk orang yang berpendapat bahwa kompetisi terbaik hendaknya dilakukan dengan diri sendiri. Menjadi lebih baik setiap hari, itulah kompetisi sejati.
  2. Istilah festivalisasi kompetisi ini mungkin bisa disederhanakan menjadi perlombaan anak. Tapi karena saya merasa kurang pas, jadinya saya menggunakan istilah festivalisasi kompetisi. Ini bukan berarti saya mengikuti trend vicki loh. ^__^
BacaMendidik Anak Menjadi Mister dan Miss World

Pendidikan Anak dalam Perspektif SEO

pendidikan anak dalam perspektif seo
Di awal saya membuat situs senyumanak.com ini, banyak hal yang saya pelajari. Mulai dari membeli domain, mengaktifkan domain yang saya beli, memilih CMS, server/hosting, animasi javascript, optimasi situs agar ringan dibuka, sampai Search Engine Optimization (SEO). Saya harus mempelajari itu semua sendiri. Karena selain saya ingin situs ini sempurna, saya juga tidak memiliki dana untuk menyewa para profesional untuk hal tersebut.

Dari keseluruhan ilmu baru yang saya pelajari, ada satu ilmu yang menurut saya unik, yaitu ilmu tentang Search Engine Optimization (SEO). Jika sahabat belum tahu apa itu SEO, sahabat bisa membuka google, atau mesin pencari lain (semisal yahoo, dll), kemudian sahabat ketikkan kata kunci (keywords) "Senyum Anak". Kemudian sahabat bisa melihat, bahwa situs Senyum Anak ini, menempati urutan pertama dalam hasil pencarian.

Kira-kira begitulah gambaran umum tentang SEO. Ilmu agar situs kita menempati urutan pertama dalam mesin pencari (search engine seperti google, yahoo, dsb), ketika orang lain mengetikkan kata kunci (keyword) untuk mencari informasi tertentu. Dan Alhamdulillah, ilmu SEO yang saya pelajari, menempatkan situs Senyum Anak ini di urutan pertama dari sekitar 12 juta halaman yang diindeks Google.

Oke, cukup narsisnya.. ^__^

Ada hal menarik dari ilmu SEO ini, yang hampir tidak saya dapatkan di ilmu-ilmu lain yang saya pelajari. Bahwa ilmu SEO ini sangat dinamis. Bahwa teknik SEO yang sekarang kita pelajari, tahun depan, bulan depan, bahkan minggu depan mungkin menjadi basi, tak terpakai lagi. Apalagi jika Google, Yahoo, dan mesin pencari lainnya melakukan perubahan algoritma/sistem dalam teknik indeksnya.

Tapi sedinamis apapun ilmu SEO, ada beberapa hal dasar yang tak berubah, dan menjadi patokan penting dalam mempelajari ilmu ini. Hal dasar inilah yang luput dipelajari oleh para pemula yang ingin mempelajari SEO. Persis seperti saya dulu, yang terlalu berfokus pada teknik-teknik instan SEO, dan melupakan hal dasar ini.

Disini saya tidak akan membahas tentang hal dasar terkait ilmu SEO. Di tengah arus informasi yang begitu deras ini, saya ingin menekankan bahwa kedinamisan ilmu, dan perkembangan yang begitu cepat, sekarang bukan lagi milik SEO saja. Seluruh ilmu mengalami perkembangan yang begitu cepat, termasuk dalam hal ini ilmu tentang pola asuh, tumbuh kembang, dan pendidikan anak.

Jika kita cermati, setiap hari pasti ada informasi baru terkait pola asuh, tumbuh kembang, dan pendidikan anak, yang diposting di internet. Bentuknya beragam, mulai dari tulisan, gambar, sampai video. Formatnya juga berbeda-beda, ada yang berbentuk tips dan trik, teori, cerita, berita, kombinasi, dan format kreatif lainnya. Dan yang paling memusingkan kita sebagai orang tua, ada beberapa informasi tersebut yang saling bertentangan, tips dan trik yang berbeda-beda, dan berita-berita yang tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang. Inilah fenomena yang mirip dengan ilmu dinamis SEO, ilmu dinamis parenting.

Maka, sebagaimana para master SEO menginvestasikan waktunya untuk belajar ilmu-ilmu dasar SEO, kita sebagai orang tua juga perlu menginvestasikan waktu kita untuk mempelajari ilmu-ilmu dasar terkait pola asuh, tumbuh kembang, dan pendidikan anak. Jangan terjebak dengan teknik-teknik parenting yang menawarkan cara instan menyelesaikan masalah pada anak, namun lalai mencari ilmu dasar terkait masalah-masalah pada anak tersebut. Jangan juga terjebak mempelajari tips dan trik parenting, namun malas membaca lebih dalam terkait kenapa tips dan trik tersebut bisa berfungsi atau tidak.

Semoga bisa dipahami.. ^__^

NB:
  1. Di tulisan lain, saya akan membahas terkait ilmu-ilmu dasar apa saja sih yang wajib kita pelajari sebagai orang tua.
  2. Menulis setelah sekian lama vakum itu ternyata mengasyikan. Mohon dimaafkan karena baru bisa berbagi lagi setelah sekian lama. Semoga bermanfaat.
BacaPendidikan Anak dalam Perspektif SEO

Konsistensi dalam Mendidik Anak: Episode Tantrum


konsistensi mendidik anak tantrum
Suatu hari Lina diajak ibunya pergi ke pasar. Disana, Lina melihat pedagang balon. Kebetulan sang pedagang balon menjual balon berbentuk Dora, tokoh kartun kesukaannya. Lina pun meminta sang ibu untuk membelikan balon tersebut. Tetapi karena sang ibu hanya membawa uang pas-pasan untuk belanja, ia menolak permintaan Lina, "Lina sayang, ibu lagi gak bawa uang. Nanti saja ya beli balonnya."

"Sekalang aja. Lina mau balon Dola." Jawab Lina.

"Lina lihat deh dompet ibu. Tuh, ibu cuma bawa segini. Kalau beli balon Dora, nanti uangnya gak cukup untuk belanja." Ibu Lina memperlihatkan dompetnya pada LIna.

"Gak mau. Lina maunya sekalang. Nanti balon Dola nya kebulu pelgi. Nggak ada lagi." Lina mulai merajuk.

"Lina. Ibu bener-bener gak bawa uang lagi. Nanti aja ya beli balonnya." Nada suara ibu Lina semakin tinggi.

"Lina maunya sekalang. Lina mau balon Dola." Lina mulai menangis.

Ibu Lina yang melihat Lina menangis, merasa tak tega. Akhirnya sang ibu membelikan Lina balon Dora. Dan memutuskan untuk belanja sayur di tukang sayur keliling yang biasa lewat di rumah mereka.

Beberapa hari kemudian, Lina pergi menemani ibunya ke rumah seorang teman. Setelah kunjungan usai, ibu dan anak itupun berpamitan pada sang pemilik rumah. Di luar pagar ternyata telah menunggu tukang mainan keliling. Lina melihat boneka Barbie lucu. Iapun menghampiri tukang mainan itu. Sambil memegang boneka Barbie tersebut, Lina berkata pada ibunya, "Ibu, aku mau boneka Belbi ini."

"Lina. Tadi khan Lina sudah janji gak akan jajan hari ini." Ibunya menjawab.

"Tapi ini khan bukan jajan bu. Ini boneka Belbi. Lina mau ini." Lina mulai merajuk.

"Sayang, nanti aja ya beli boneka Barbie nya. Nanti minta beliin ke bapak." Nada suara ibu Lina semakin tinggi.

"Lina maunya sekalang. Lina mau boneka Belbi ini. Sekalang." Lina mulai menangis.

"Nanti aja Lina. Ayo, taro lagi bonekanya. Sekarang kita pulang." Ibu Lina mengambil boneka dari tangan Lina.

"Gak mau. Lina mau boneka Belbi ini. Sekalang. Huu." Lina mulai menjerit.

Merasa malu karena mulai menjadi pusat perhatian, ditambah lagi, temannya sang ibu masih memperhatikan dari balik pagar, akhirnya ibu Lina mengalah. Sang ibu membelikan boneka Barbie seperti yang diinginkan Lina. Linapun langsung berhenti menangis.

Seminggu kemudian. Lina bertamasya bersama ibu dan bapaknya. Mereka pergi ke kebun binatang Ragunan. Setelah berjalan-jalan melihat berbagai jenis binatang, Lina dan kedua orang tuanya mampir ke jajaran toko yang ada disana untuk makan. Di toko suvenir sebelah, Lina melihat boneka gajah besar. Lina jatuh hati pada boneka itu. Lina pun meminta kepada ibu bapaknya untuk membelikannya boneka itu.

Ibunya menanyakan harga boneka itu ke pemilik toko. Terlihat raut muka terkejut ketika sang pemilik toko menyebutkan harganya. Terjadilah tawar menawar diantara keduanya. Sampai pada satu titik, sang ibu menghampiri Lina, "Lina sayang, kita beli boneka gajahnya nanti aja ya. Di toko mainan dekat rumah saja. Di sini harganya mahal."

"Tapi khan disana nggak ada boneka gajah Bu." Lina mulai merajuk.

"Kalo begitu, nanti kita cari di tempat lain. Disini mahal Lina." Jawab sang ibu.

"Di tempat lain juga belum tentu ada Bu. Lina maunya disini aja." Lina mulai menangis.

"Lina, jangan mulai deh. Kita beli di tempat lain aja ya. Ada kok yang jual boneka gajah kayak gitu." Nada suara ibu Lina mulai meninggi.

"Gak ada Bu. Boneka gajah itu cuma ada disini. Lina mau belinya disini." Lina mulai menjerit.

"Ada. Nanti kita cari di tempat lain." Sang Ibu mulai menarik Lina menjauh dari toko.

Lina meronta-ronta. Tangis dan jeritannya semakin kencang, "Gak ada. Lina mau boneka gajah itu!"

Ibu Lina mencoba menggendong Lina, tapi Lina tetap meronta dan bahkan mulai berguling-guling di tanah. Suara tangisan dan jeritannya yang menginginkan boneka gajah itu, semakin kencang.

Bapaknya yang mulai merasa diperhatikan orang banyak langsung menengahi, "Udah Bu, belikan saja bonekanya. Malu diliat orang banyak tuh."

Akhirnya sang ibu mengalah lagi. Linapun langsung berhenti menangis ketika boneka itu sudah di tangannya.

Temper Tantrum

Cerita Lina di atas mungkin sedikit banyak bisa menjelaskan bagaimana temper tantrum terbentuk. Awalnya, Lina secara alami menangis ketika keinginannya tidak dikabulkan. Kemudian Lina belajar bahwa tangisan saja tidak cukup. Akhirnya Lina mulai menambahkan jeritan, rontaan, dan mengguling-gulingkan badannya di tanah sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya. Dan secara tidak sadar, ibu Lina justru mendukung 'proses pembelajaran' ini dengan tindakan mengalah-nya.

Temper tantrum adalah sebuah luapan emosi yang terjadi pada seorang anak (dan orang dewasa meskipun jarang sekali), yang ditandai oleh tangisan, jeritan, teriakan, sifat keras kepala, menggulingkan badan di tanah, bahkan pada beberapa kasus, pelaku temper tantrum ini melakukan kekerasan. Anak yang mengalami temper tantrum kehilangan kontrol terhadap tubuhnya. Sehingga bahkan jika keinginannya telah terpenuhi, anak tersebut masih menunjukkan gejala-gejala tersebut (menangis, menjerit, dsb).

Pada balita, temper tantrum sebenarnya merupakan kejadian yang normal. Hanya saja, penyikapan yang kurang tepat dari orang tua, menjadikan ini sebagai masalah yang berkelanjutan. Apa yang dilakukan ibu dan bapak Lina pada cerita di atas, bisa kita jadikan contoh buruk dalam menghadapi pembentukan temper tantrum pada anak.

Sedangkan jika disikapi dengan tepat, temper tantrum ini akan menghilang dengan sendirinya seiring tumbuh kembang anak.

Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Berdasarkan penelitian, balita menggunakan tantrum untuk mengekspresikan 2 jenis emosi, yaitu marah dan takut. Berikut adalah tips agar fase tantrum pada anak berlalu dengan baik:
  1. Kenali penyebab tantrum ini, apakah anak tantrum karena marah, atau anak tantrum karena ketakutan terhadap sesuatu.
  2. Jauhkan benda-benda berbahaya dari anak yang sedang mengalami tantrum. Pastikan lingkungan sekitar tempat anak mengalami tantrum, aman.
  3. Jika anak tantrum karena marah, biarkan anak mengekspresikan kemarahannya tersebut. Entah menangis, menjerit, memukul-mukul lantai, dan sebagainya. Jangan merasa malu jika orang lain memperhatikan. Ini semua demi kebaikan si anak.
  4. Setelah marahnya reda, emosi yang tersisa adalah sedih. Biasanya anak akan berhenti meronta, menjerit, dan memukul-mukul lantai. Tetapi anak tetap menangis. Pada saat inilah anak memerlukan kenyamanan. Peluk dan gendong anak untuk meredakan tangisan sedihnya.
  5. Sedangkan jika anak tantrum karena ketakutan terhadap sesuatu, segera jauhkan penyebab ketakutan itu dari anak. Atau gendong anak dan pergi dari tempat itu.
  6. Yang paling penting, sebagaimana judul tulisan ini, konsistenlah dalam mendidik anak. Jika sahabat berkata A, maka konsisten dengan perkataan itu. Jangan sampai ketidak konsisten an kita menjadi celah bagi munculnya tantrum artificial seperti kasus Lina di atas.

NB:
  1. Tulisan ini bagian dari rangkaian tulisan "Konsistensi dalam Mendidik Anak". Nantikan episode lainnya. Hehe
  2. Cerita LIna di atas based on true story. Bukan cerita sebenarnya, bukan pula rekayasa.
  3. Tulisan ini dibuat sebagai sindiran sekaligus pengingatan kepada saya untuk Konsisten dalam Menulis. Hampir 2 minggu saya tidak menulis lagi disini. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih konsisten. Mohon doa sahabat sekalian.. ^__^
BacaKonsistensi dalam Mendidik Anak: Episode Tantrum

Mendidik Anak Jujur dan Hebat


mendidik anak jujur dan hebat
Pada suatu hari, rumah Lina kedatangan tamu. Bapaknya Lina yang mengintip dari jendela, mengenali tamu itu. Karena malas melayani tamu itu, Bapaknya Lina pun memanggil Lina dan berkata, "Lina sayang. Lina mau bantuin Bapak gak?"

Lina menjawab, "Iya pak. Bapak mau dibantu apa?"

"Lina ke depan ya. Temuin om yang di depan itu. Terus bilangin kalo bapak gak ada di rumah." Pinta Bapak Lina.

"Oke pak." Jawab Lina.

Lina pun pergi ke depan menemui tamu Bapaknya. Setelah itu ia berkata, "Om, tadi bapak bilang, katanya bapak gak ada di lumah. Udah ya om. Lina mau main lagi."

Bapak Lina yang mendengar hal itu, menepuk jidatnya.

Kritis dan Jujur

Dalam tulisan saya sebelumnya (Walk The Talk: Anak Kritis dan Orang Tua Teladan), saya telah membahas tentang anak yang kritis. Tak hanya kritis dalam menilai setiap ucapan kita, anak juga sangat kritis terhadap apa yang kita lakukan. Maka, jika sedikit saja kita tidak mematuhi aturan yang berlaku, jangan heran jika anak-anak akan mengingatkan kita pada aturan itu.

Yang menarik, cara anak-anak mengingatkan kita, biasanya to the point. Langsung, polos, lugas, tanpa basa-basi, dan di atas itu semua, jujur. Kalau boleh saya katakan, pada dasarnya, semua anak dilahirkan dalam keadaan jujur, hingga orang tua mereka menjadikan anak-anaknya menjadi seorang penipu, pembohong, pengkhianat, politis, atau tetap bertahan dalam kejujurannya.

Lalu bagaimana jika anak kita sudah sering mengingatkan kita, tapi sering pula kita menganggapnya angin lalu? Bagaimana jika anak kita mendapati kita kerap kali melanggar aturan yang berlaku? Bagaimana jika anak kita sering melihat kita bicara, tapi tidak melaksanakan apa yang kita ucapkan? Bagaimana jika anak kita sering mendengar kita berbohong?

Disonansi Kognitif dan Sebuah Persimpangan

Pada tahun 1956, Leon Festinger menerbitkan sebuah buku berjudul When Prophecy Fails. Buku ini menceritakan tentang sekelompok pemuja UFO yang percaya bahwa sebentar lagi, makhluk-makhluk luar angkasa akan mendarat di bumi. Waktu dan tempat pendaratan UFO telah mereka tetapkan. Ketika UFO mendarat, makhluk-makhluk luar angkasa itu akan menghancurkan seluruh kehidupan di bumi. Hanya orang-orang yang mengikuti kelompok mereka lah yang akan selamat dan hidup berdampingan dengan makhluk pengendara UFO itu.

Namun waktu berlalu. Di tempat dan waktu yang ditentukan, ternyata tidak ada kejadian. UFO tidak datang sesuai ramalan. Anggota kelompok pemuja UFO pun mengalami Disonansi Kognitif yang sangat hebat. Di satu sisi, mereka meyakini bahwa kedatangan UFO telah ditentukan. Tapi di sisi lain, mereka melihat kenyataan, bahwa semua ramalan yang mereka percayai itu tidak terjadi. Apakah mereka merupakan korban hoax? Penipuan?

Disinilah hal yang menarik. Para pemuja UFO itu ternyata tidak langsung mencampakkan kepercayaan mereka begitu saja. Mereka mengambil jalan tengah untuk keluar dari ketidaknyamanan yang mereka alami akibat Disonansi Kognitif ini. Mereka mempercayai bahwa makhluk penguasa UFO memberikan kesempatan kedua bagi makhluk bumi untuk 'bertobat'. Sehingga penghancuran kehidupan bumi sebagaimana yang diramalkan sebelumnya tidak terjadi. Paska kejadian itu, kelompok pemuja UFO itu justru semakin giat mengajak orang masuk ke kelompoknya.

Dari sinilah, konsep Disonansi Kognitif mulai dipakai secara meluas, terutama di bidang psikologi sosial. Secara umum, Disonansi Kognitif diartikan sebagai, perasaan tidak nyaman yang dialami seseorang ketika mereka meyakini 2 atau lebih pemikiran (ide, kepercayaan, nilai, reaksi emosional) yang bertentangan satu sama lain. Ketika mengalami Disonansi Kognitif ini, orang akan merasakan 'disequlibrium': frustrasi, takut, bersalah, marah, malu, cemas, dan sebagainya. Dan untuk menghilangkan perasaan-perasaan itu, biasanya ada 3 hal yang dilakukan:
  1. Mengubah pemikiran awal sesuai dengan pemikiran baru
  2. Menganggap pemikiran baru tidak penting, sehingga ia bisa nyaman memegang pemikiran awalnya
  3. Mengelaborasi/menyatukan kedua pemikiran tersebut, sehingga tercipta pemikiran yang sama sekali baru

Berani Jujur Hebat

Sebuah kebohongan, berpotensi untuk menciptakan kebohongan-kebohongan lain untuk melindungi kebohongan pertama. Dan pada satu titik, orang yang terbiasa berbohong, pasti sulit membedakan antara realitas dan dunia palsu yang ia ciptakan.

Kebohongan merupakan sumber utama pemicu Disonansi Kognitif. Karena ketika kebohongan pertama digulirkan, kebohongan ini pasti bertentangan dengan realitas yang terjadi, sehingga terjadilah Disonansi Kognitif pada orang yang berbohong tersebut. Akibatnya, orang tersebut harus memilih, apakah ia akan hidup dalam dunia palsu yang ia ciptakan di atas landasan kebohongan, atau ia akan keluar dari kebohongan tersebut, menjadi jujur dan hebat.

Semoga kita bisa belajar dari kisah Lina dan Bapaknya di atas. Semoga kita juga bisa mengambil hikmah dari kelompok pemuja UFO. Bahwa ketika anak terbiasa hidup dalam kebohongan, bukan mustahil mereka akan hidup menjadi bagian dari kelompok pemuja UFO.. ^__^

NB:
Berani Jujur Hebat adalah slogan kampanye KPK sebagai bagian pendidikan anti korupsi bangsa ini.
BacaMendidik Anak Jujur dan Hebat

Walk The Talk: Anak Kritis dan Orang Tua Teladan

walk the talk: anak kritis dan orang tua teladanSuatu hari saya diberi kesempatan mengisi outbond untuk para pegawai perusahaan dinamit dan pertambangan. Acaranya berlangsung siang hari di waduk Jati Luhur. Karena sekalian ingin berpetualang, saya bilang ke panitia bahwa saya sanggup berangkat sendiri kesana. Naik motor.

Tibalah hari H. Saya berangkat pagi dari Depok naik motor. Saya memperkirakan bahwa jam 12 siang, saya sudah tiba di lokasi, untuk kemudian istirahat, makan siang dan mengisi acara tepat pukul 1 siang. Tapi perkiraan saya rupanya meleset. Saya tiba di lokasi pukul setengah 2 siang. Terlambat.

Tanpa sempat makan siang, saya langsung menemui panitia dan peserta. Saya langsung pergi ke aula dimana para peserta sudah berkumpul. Secara terbuka saya meminta maaf kepada peserta atas keterlambatan saya. Tapi ternyata mereka tidak begitu saja memaafkan saya. Sejak awal mereka diberi aturan bahwa keterlambatan mereka berkonsekuensi hukuman. Maka, saya sebagai trainer pun, harus mematuhi aturan tersebut. Walk the Talk, begitu istilahnya.

Dan akhirnya, berkat sikap kritis para peserta, saya pun menjalani hukuman dari mereka. Saya, bersama beberapa orang panitia, harus joget dan menghibur mereka di depan aula.. ^__^

Kritis dan Walk The Talk

Melihat latar belakang peserta, yang merupakan pegawai di perusahaan dinamit dan pertambangan, saya menjadi maklum jika mereka sangat menghargai waktu. Keterlambatan, atau ketidak sesuaian dalam kinerja mereka, bisa berakibat fatal. Nyawa taruhannya. Dan tak heran pula, mereka menjadi manusia-manusia yang sangat kritis terhadap aturan yang berlaku.

Tapi tahukah sahabat, siapa manusia yang lebih kritis dari mereka? Yap, sudah pasti, anak-anak. Anak-anak adalah manusia-manusia yang terlahir dengan sifat kritis. Sekali sebuah aturan/peraturan/keteraturan mereka jalani, mereka akan langsung mengingatnya. Dan akan mengingatkan kita jika suatu saat kita tidak menjalankan aturan/peraturan/keteraturan tersebut.

Hal ini pernah saya alami. Suatu hari saya mengajak anak saya Farid untuk membuat teh. Sambil saya gendong dan memperagakan cara membuat teh tawar, saya juga menarasikan langkah-langkah membuat teh. Mulai dari mengambil teh, menuangkan teh tubruk ke dalam gelas, mengambil air ke dalam panci, menaruh panci di atas kompor gas, menyalakan kompor, menutup panci, dan menunggu sampai air mendidih. Farid menikmati momen-momen itu. Bahkan beberapa kali dia mengulangi kata-kata yang saya ucapkan, "Teh... papuh (tutup panci).. didih (air mendidih).."

Esoknya, saya mengajak Farid membuat teh lagi. Kami mengambil teh, menuangkannya ke dalam gelas, mengambil air ke dalam panci, menaruh panci di atas kompor gas, menyalakan kompor, dan menunggu sampai air mendidih. Eh, tapi sepertinya ada yang tertinggal. Apa ya? Sahabat bisa membantu saya? (Kok jadi mirip narasi Dora the Explorer ya.. ^__^)

"Papuh... Papuh..." Tiba-tiba Farid berbicara, mengingatkan saya untuk menutup panci.

Begitulah. Kemarin saya telah berbicara (Talk) kepada Farid, bahwa salah satu langkah dalam membuat teh adalah dengan menutup panci. Maka sekarang pun, saya harus menjalankan (Walk) aturan main tersebut. Sesederhana itu. Dan Farid mengingatnya. Mengkritisi saya.

Saya tak habis pikir jika ke depannya saya terlalu banyak berbicara. Mengeluarkan berbagai aturan. Menasihati ini itu ke Farid. Tapi saya sendiri tidak melaksanakan apa yang saya bicarakan. Tidak mengikuti aturan yang bersama kami tetapkan. Dan mengkhianati apa yang saya nasihatkan. Akankah Farid masih berkenan mengkritisi saya, mengingatkan saya.

NB:
Sebenarnya saya ingin membahas lebih jauh tentang Walk The Talk ini. Tak lupa pula menyelipkan teori Disonansi Kognitif untuk pembelajaran kita sebagai orang tua. Tapi sepertinya tulisan ini akan menjadi sangat panjang jika hal itu dilaksanakan. Saya berusaha membuat tulisan-tulisan di Senyum Anak ini ringan, mudah dicerna, dan bermakna.

Sekedar mengingatkan status di Facebook saya yang berhubungan dengan tulisan ini:
Apa yang berasal dari mulut, hanya sampai ke telinga.
Apa yang berasal dari pikiran, hanya sampai ke ingatan.
Apa yang berasal dari hati, akan sampai ke hati.
Apa yang terlihat, akan cenderung diikuti.
BacaWalk The Talk: Anak Kritis dan Orang Tua Teladan